Langsung ke konten utama

Postingan

Dolar AS Tertekan usai The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Mulai Ragukan Peluang Kenaikan pada September Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Rabu (29 Juli) setelah Federal Reserve (The Fed) kembali memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75% . Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, namun memunculkan keraguan baru mengenai peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September. Pelemahan dolar terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan berubahnya ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter bank sentral. Keputusan The Fed diambil melalui hasil pemungutan suara 9 banding 3 . Meskipun mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memilih mempertahankan suku bunga, tiga pejabat bank sentral, yaitu Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan , memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin . Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhat...
Postingan terbaru
Trump Buka Peluang Perdamaian dengan Iran, Desak The Fed Pangkas Suku Bunga demi Dukung Ekonomi AS Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengisyaratkan komitmennya untuk mengedepankan jalur diplomasi dalam meredakan konflik dengan Iran. Setelah menghentikan serangan militer, Trump menyatakan tetap membuka peluang pembicaraan damai dengan Teheran. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk menciptakan stabilitas geopolitik di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama pemicu lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Menurut Trump, berakhirnya ketegangan di kawasan Timur Tengah akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Amerika Serikat maupun dunia. Stabilitas pasokan energi diyakini dapat menekan harga minyak dan berbagai komoditas strategis, sehingga tekanan inflasi yang selama beberapa waktu membebani masyarakat dan dunia usaha berpotensi mereda. Trump juga menyoroti laporan inflasi terbaru Amerika Serikat yang men...
Harga Emas Melonjak Lebih dari 1,5%, XAU/USD Dekati Level US$4.150 di Tengah Pelemahan Dolar AS Harga emas dunia mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu (23 Juli), didorong oleh meningkatnya aksi beli setelah berhasil menembus level teknikal penting. Penguatan ini membawa logam mulia ke posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir, sekaligus memperkuat optimisme bahwa tren kenaikan masih berpotensi berlanjut di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik global. Emas spot (XAU/USD) naik lebih dari 1,5% dan diperdagangkan di kisaran US$4.146 per troy ounce , setelah sebelumnya sempat menyentuh level harian terendah di sekitar US$4.076 per troy ounce . Rebound yang kuat tersebut menunjukkan bahwa minat beli kembali meningkat setiap kali harga mengalami koreksi, mencerminkan masih solidnya permintaan terhadap aset safe haven. Kenaikan harga emas semakin kuat setelah berhasil menembus area resistance utama yang sebelumnya menjadi penghalang pergerakan...
  Wall Street Pangkas Kenaikan, Konflik AS-Iran dan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Tekan Sentimen Pasar Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan dengan pergerakan yang beragam pada Senin (20/7), setelah reli di awal sesi kehilangan momentum akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu aksi hati-hati investor, meskipun penguatan saham-saham produsen semikonduktor berhasil menopang indeks teknologi. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi lebih dari 200 poin . Pergeseran sentimen tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global dan memicu kenaikan harga energi dalam jangka panjang. Sentimen negatif semakin menguat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali melancarkan serangan militer. Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukun...
  Wall Street Melemah, Saham Chip dan AI Tertekan di Tengah Kekhawatiran Valuasi dan Risiko Geopolitik Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (16/7) setelah tekanan besar di sektor semikonduktor dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik mengalahkan sentimen positif dari musim laporan keuangan emiten. Investor mulai melakukan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, terutama perusahaan yang selama ini menjadi motor penguatan pasar berkat tren kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Penurunan indeks utama mencerminkan perubahan sikap investor yang kini lebih selektif dalam menempatkan dana di saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi. Kekhawatiran bahwa ekspektasi pertumbuhan sektor AI sudah terlalu optimistis membuat tekanan jual kembali mendominasi perdagangan. Indeks Utama Wall Street Ditutup Melemah Pada penutupan perdagangan, S&P 500 turun 0,5% , sementara Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi...
  Kuwait Kembali Diserang Iran, Ketegangan Teluk Memanas dan Ancam Pasokan Energi Global Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Kuwait kembali menjadi sasaran serangan Iran. Insiden terbaru ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas, terutama setelah Washington memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Serangan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu stabilitas kawasan yang menjadi pusat produksi energi dunia. Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan bahwa serangan terbaru melibatkan lima rudal jelajah (cruise missile), satu rudal balistik, serta 33 pesawat nirawak atau drone. Skala serangan ini menjadi yang terbesar sejak serangan terhadap Bandara Internasional Kuwait pada bulan lalu yang menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 60 korban. Intensitas serangan yang terus meningkat menunjukkan bahwa Kuwait kini berada di garis depan...
Dolar AS Bergerak Stabil, Yen Menguat di Tengah Ketidakpastian Inflasi dan Konflik Selat Hormuz Pergerakan dolar Amerika Serikat cenderung stabil pada akhir pekan seiring pelaku pasar menimbang perkembangan inflasi global, prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu serangkaian data ekonomi penting yang akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Indeks Dolar AS (DXY) ditutup menguat tipis 0,1% ke level 100,96 pada pukul 16.35 waktu New York. Meski kenaikannya relatif terbatas, penguatan tersebut cukup membawa DXY membukukan kinerja positif secara mingguan. Pergerakan yang cenderung sempit mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar yang belum berani mengambil posisi besar sebelum memperoleh kepastian mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Di sisi lain, ...