Langsung ke konten utama

Postingan

Harga Minyak Terkoreksi di Asia, “War Premium” Menguap dan Dolar AS Menguat Harga minyak mentah melemah tajam pada sesi perdagangan Asia, Senin 2 Februari 2026, setelah reli sebelumnya tertahan oleh aksi ambil untung dan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan. Minyak Brent turun sekitar USD 2,81 ke level USD 66,51 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah USD 2,70 ke USD 62,51 per barel, atau sekitar 4%. Pergerakan ini menandai koreksi signifikan setelah pasar sebelumnya diperdagangkan dengan premi risiko geopolitik yang tinggi. Tekanan jual muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran “serius” untuk membuka pembicaraan dengan Washington. Pernyataan tersebut langsung memicu penilaian ulang pasar terhadap peluang de-eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Reuters juga melaporkan adanya sinyal tambahan yang menurunkan risiko, termasuk keputusan Iran untuk tidak menggelar latihan angkatan laut di Selat Hormuz. Kombinasi faktor ini membuat premi...
Postingan terbaru
Nikkei Tersandung, Penguatan Yen Tekan Saham Jepang Pasar saham Jepang melemah pada awal perdagangan seiring penguatan yen yang tiba-tiba memicu kekhawatiran investor terhadap prospek laba emiten. Indeks Nikkei tercatat turun sekitar 0,8% ke level 52.893, mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati pelaku pasar terhadap dampak nilai tukar yang lebih kuat terhadap kinerja perusahaan, khususnya yang berorientasi ekspor. Tekanan terbesar datang dari saham-saham eksportir yang sangat sensitif terhadap pergerakan mata uang. Sektor otomotif dan farmasi menjadi yang paling terpukul, dengan saham Toyota anjlok sekitar 2,7% dan Daiichi Sankyo merosot tajam hingga 4,8%. Penguatan yen secara historis cenderung menekan laba eksportir karena pendapatan luar negeri menjadi lebih kecil saat dikonversi ke yen, sehingga mendorong investor untuk cepat mengurangi eksposur risiko. Di pasar valuta asing, pergerakan yen terlihat signifikan. Pasangan USD/JPY turun tajam ke kisaran 152,53 dari sekitar 154,57 pa...
Dolar AS Tertekan, Pasar Menjauh dari Aset Amerika di Tengah Drama Greenland Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan, tercermin dari pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang melanjutkan tren menurun. Sentimen global memburuk setelah eskalasi isu Greenland kembali mencuat bersamaan dengan ancaman perang tarif antara Amerika Serikat dan Eropa. Alih-alih mengalir ke dolar, arus dana global justru bergerak menuju aset safe haven alternatif seperti emas, yen Jepang, dan franc Swiss, membuat dolar kehilangan momentum untuk bangkit secara cepat. Tekanan terbesar terhadap dolar datang dari kembalinya narasi “Sell America” di pasar keuangan global. Investor semakin sensitif terhadap risiko kebijakan Amerika Serikat yang berpotensi memicu konflik dagang baru. Ketidakpastian mengenai respons Eropa menjadi faktor kunci yang membebani sentimen, karena selama pasar belum melihat tanda-tanda deeskalasi yang jelas, DXY cenderung bergerak defensif dan rentan melemah setiap kali muncul berita ...
Emas Tembus US$4.800, Lonjakan Safe Haven di Tengah Gejolak Global Harga emas kembali mencetak rekor baru dengan menembus level US$4.800 per ons dalam perdagangan Asia pagi ini. Lonjakan ini menegaskan pergeseran besar sentimen pasar global ke mode “zona aman”, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan kembalinya keresahan di pasar obligasi global. Investor secara agresif meninggalkan aset berisiko dan memilih instrumen lindung nilai, dengan emas menjadi tujuan utama arus modal. Pemicu terbesar reli emas berasal dari memburuknya krisis Greenland. Ancaman Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu tersebut memaksa pelaku pasar memperhitungkan risiko perang dagang sebagai skenario yang semakin nyata. Dalam kondisi seperti ini, pola pasar cenderung konsisten: eksposur terhadap saham dan aset berisiko ditekan, sementara permintaan terhadap safe haven meningkat tajam. Emas, sebagai aset tanpa risiko gagal bayar dan bebas kebijakan pemerintah te...
Pergerakan Indeks Dolar AS Terbatas, Pasar Mencermati Arah Kebijakan The Fed Indeks Dolar AS (DXY) bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, seiring pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve serta dinamika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama global, masih berada di bawah tekanan setelah ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali menjadi fokus utama pasar. Dari sisi fundamental, dolar AS masih dibayangi pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan sikap kebijakan yang lebih dovish ke depan. Perlambatan tekanan inflasi dan munculnya tanda-tanda moderasi aktivitas ekonomi AS membuka ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Ekspektasi ini membatasi potensi penguatan dolar, meskipun sejumlah data ekonomi Amerika Serikat sejauh ini masih menunjukkan ketahanan di beberapa sektor utama. Pergerakan imbal hasil obligasi...
Harga Minyak Dunia Bergerak Terbatas, Tekanan Pasokan dan Permintaan Jadi Sorotan Pasar Harga minyak mentah global bergerak tipis dan cenderung melemah dalam perdagangan terbaru, mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental dan teknikal. Pergerakan ini menegaskan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi surplus pasokan global, di tengah sinyal permintaan yang masih lemah dan belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan. Dari sisi fundamental, pasar minyak saat ini berada di bawah tekanan pasokan yang kuat. Gejolak geopolitik terbaru, termasuk rencana Venezuela untuk menyalurkan pasokan minyak ke pasar internasional, dipandang sebagai faktor yang berpotensi menambah volume pasokan dan menekan harga. Aliran tambahan ini dinilai mampu memperkuat tekanan turun, terutama jika distribusi minyak tersebut terealisasi dalam skala besar dan berkelanjutan. Sejumlah analis energi juga menilai Amerika Serikat berpotensi berupaya menahan harga minyak di ba...
Prospek Pasar Kripto 2026: Momentum Baru di Tengah Dukungan Institusi dan Inovasi Teknologi Pasar kripto menutup tahun 2025 dengan volatilitas tinggi, sebuah karakter yang sudah melekat pada aset digital. Di balik fluktuasi tajam tersebut, terdapat sejumlah katalis positif yang membentuk fondasi penting bagi siklus berikutnya. Perubahan regulasi yang lebih kondusif di Amerika Serikat, kemunculan Digital Asset Treasuries (DAT), adopsi kecerdasan buatan, serta percepatan tokenisasi Real-World Assets (RWA) menjadi pendorong utama pertumbuhan ekosistem kripto sepanjang tahun lalu. Aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP), dan Binance Coin (BNB) berhasil mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH). Namun, momentum tersebut melemah pada paruh kedua 2025, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global, mulai dari isu tarif perdagangan, tekanan inflasi, hingga arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Kondisi pasar semakin te...