Langsung ke konten utama

Postingan

Dolar AS Bergerak Stabil, Yen Menguat di Tengah Ketidakpastian Inflasi dan Konflik Selat Hormuz Pergerakan dolar Amerika Serikat cenderung stabil pada akhir pekan seiring pelaku pasar menimbang perkembangan inflasi global, prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu serangkaian data ekonomi penting yang akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Indeks Dolar AS (DXY) ditutup menguat tipis 0,1% ke level 100,96 pada pukul 16.35 waktu New York. Meski kenaikannya relatif terbatas, penguatan tersebut cukup membawa DXY membukukan kinerja positif secara mingguan. Pergerakan yang cenderung sempit mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar yang belum berani mengambil posisi besar sebelum memperoleh kepastian mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Di sisi lain, ...
Postingan terbaru
  Dolar AS Gagal Menguat Meski Notulen The Fed Bernada Hawkish, Investor Cermati Prospek Ekonomi Global Indeks Dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY) bergerak stabil di kisaran level 101,00 pada perdagangan Rabu, setelah pelaku pasar mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 16–17 Juni. Meskipun notulen tersebut memperlihatkan sikap Federal Reserve yang masih cenderung hawkish, penguatan dolar AS tetap terbatas karena investor mulai mengalihkan perhatian pada prospek perlambatan ekonomi dan melemahnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Risalah rapat tersebut merupakan hasil pertemuan kebijakan moneter pertama di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Dalam dokumen tersebut, para pejabat bank sentral sepakat mempertahankan suku bunga acuan, namun tetap menilai bahwa risiko inflasi masih berada pada level yang tinggi dan memerlukan kewaspadaan. Federal Reserve juga menyoroti sejumlah faktor yang berpotensi memicu ...
  Harga Minyak Stabil, Pasar Pantau Perdamaian AS-Iran dan Pemulihan Pasokan Selat Hormuz Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (3 Juli), meskipun mencatat kenaikan tipis di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar menilai keberhasilan diplomasi kedua negara berpotensi menjaga kelancaran pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Minyak mentah Brent ditutup naik 25 sen atau sekitar 0,35% ke level US$72,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hanya menguat 1 sen menjadi US$68,70 per barel. Pergerakan yang terbatas ini juga dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan yang lebih sepi karena pasar Amerika Serikat ditutup lebih awal menjelang libur Hari Kemerdekaan. Pada sesi perdagangan sebelumnya, baik Brent maupun WTI sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konfl...
  Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Rabu (2 Juli) setelah optimisme terhadap perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mengurangi kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Sentimen positif dari perundingan kedua negara membuat premi risiko geopolitik di pasar minyak menyusut, sehingga mendorong aksi jual pada kontrak minyak mentah. Penurunan harga ini sekaligus membawa minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) ke level penutupan terendah dalam empat bulan terakhir. Selain perkembangan geopolitik, pasar juga mulai mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya pasokan dari negara-negara produsen minyak OPEC+, yang diperkirakan akan kembali meningkatkan target produksi pada pertemuan mendatang. Brent dan WTI Ditutup di Level Terendah dalam Empat Bulan Minyak mentah Brent turun sebesar US$1,...
  Harga Emas Turun, Level US$4.000 per Troy Ounce Menjadi Benteng Kuat Investor Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin (29 Juni) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan aksi saling serang. Membaiknya prospek geopolitik di Timur Tengah mendorong sebagian investor mengurangi kepemilikan aset safe haven, sehingga memberikan tekanan terhadap harga logam mulia. Meskipun mengalami penurunan cukup tajam, harga emas tetap mampu bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce . Kemampuan mempertahankan area tersebut menunjukkan bahwa minat beli masih cukup kuat dan menjadikan level tersebut sebagai zona dukungan (support) penting bagi pergerakan emas dalam jangka pendek. Kesepakatan AS-Iran Meredakan Permintaan Safe Haven Tekanan terhadap harga emas muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian serangan sebagai langkah awal untuk meredakan konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kesepakatan ...
Harga Minyak Bangkit Usai Serangan Dekat Selat Hormuz, Kekhawatiran Pasokan Global Kembali Meningkat Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (26/6) setelah sebelumnya menghapus sebagian besar kenaikan yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Penguatan terbaru terjadi menyusul laporan adanya serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran investor mengenai keamanan jalur distribusi energi paling vital di dunia. Perubahan sentimen pasar berlangsung sangat cepat. Optimisme bahwa pasokan minyak global mulai pulih sempat menekan harga pada awal perdagangan. Namun, insiden keamanan terbaru di sekitar Selat Hormuz membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik yang dapat mengganggu kelancaran distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk Persia. Optimisme Pemulihan Pasokan Sempat Tekan Harga Minyak Pada awal sesi perdagangan, harga minyak bergerak melemah karena pasar menilai kondisi pasokan global mulai menunjukkan...
  Harga Minyak Dunia Turun, Pasar Fokus pada Arus Kapal di Selat Hormuz dan Prospek Perdamaian AS-Iran Harga minyak dunia kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 23 Juni, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Investor terus memantau kondisi arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat tekanan jual di pasar energi semakin kuat dan mendorong harga minyak bergerak ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Minyak mentah Brent tercatat turun 82 sen atau sekitar 1,1% menjadi US$77,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 65 sen atau sekitar 0,9% dan berakhir di level US$73,21 per barel. Selama sesi perdagangan, kedua kontrak acuan tersebut bahkan sempat menyentuh titik terendah dalam hampir empat bulan terakhir, mencerminkan perub...