Langsung ke konten utama

Postingan

Treasury Buyback Kurang Nendang, Wall Street Ikut Tertekan oleh Yield dan Harga Minyak Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9), setelah investor menghadapi tekanan dari dua faktor utama, yaitu kenaikan yield Treasury dan lonjakan harga minyak mentah. S&P 500 turun 0,36% menjadi 7.645,67, Nasdaq Composite melemah 0,55% ke 26.276,96, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,59% dan berakhir di sekitar 52.475. Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek inflasi serta arah kebijakan Federal Reserve. Pasar sebelumnya berharap program pembelian kembali Treasury oleh Departemen Keuangan AS dapat membantu menopang permintaan obligasi dan menekan yield. Namun, besaran buyback yang diumumkan ternyata belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor. Treasury Buyback US$6 Miliar Belum Mampu Redam Yield Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana membeli kembali T...
Postingan terbaru
Dolar Tertekan, Yen Melonjak ke Level Terkuat Sejak Februari Dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan terhadap yen Jepang pada perdagangan terbaru. Pasangan USD/JPY merosot ke sekitar 154,43, turun 1,16% dari penutupan sebelumnya di 156,25, setelah sempat menyentuh level 154,06. Pergerakan tersebut membawa yen Jepang ke posisi terkuat sejak Februari sekaligus memperpanjang tren penguatan yen dalam beberapa sesi terakhir. Penguatan yen terjadi ketika pasar semakin agresif memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi terhadap normalisasi kebijakan moneter Jepang semakin kuat karena inflasi masih berada di sekitar level yang dinilai konsisten dengan target bank sentral. Kondisi ini membuat investor melihat peluang bahwa BOJ belum selesai dengan siklus pengetatan kebijakan moneternya. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Tekan USD/JPY Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan yen adalah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku...
Bitcoin Dekati Puncak Agustus, Level US$82.000 Jadi Penentu Arah Berikutnya Harga Bitcoin kembali melonjak tajam pada perdagangan Kamis (3/9), memperkuat pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan hingga berada di bawah US$77.000. Bitcoin menguat sekitar 5% ke kisaran US$81.300 , sekaligus mendekati kembali level tertinggi Agustus di sekitar US$82.000 . Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset berisiko mulai pulih. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury menjadi katalis utama yang mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk cryptocurrency. Sentimen tersebut semakin kuat setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja. Pelemahan Pasar Tenaga Kerja AS Dukung Bitcoin Salah satu faktor yang menopang reli Bitcoin adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Data ADP yan...
GDP Australia Beri Kejutan, Pertumbuhan Kuartal II 2026 Lampaui Ekspektasi Pasar Ekonomi Australia memberikan kejutan positif pada kuartal II 2026 setelah produk domestik bruto (GDP) tumbuh lebih kuat dari perkiraan pasar. Data terbaru menunjukkan GDP Australia meningkat 0,4% secara kuartalan, membaik dari pertumbuhan 0,3% pada kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar sebesar 0,3%. Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa perekonomian Australia masih memiliki daya tahan meskipun menghadapi tekanan suku bunga dan perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA), terutama terkait ruang untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut. Secara tahunan, ekonomi Australia tumbuh 2,1% pada kuartal II 2026. Angka ini memang melambat dibandingkan pertumbuhan 2,5% pada kuartal I dan menjadi pertumbuhan tahunan terendah dalam tiga kuartal. Namun, realisasi tersebut tetap lebih tinggi dari konsens...
Bitcoin Turun di Bawah US$80.000, Warsh Redam Risk-On dan Pasar Kripto Mulai Mendingin Harga Bitcoin kembali turun di bawah US$80.000 pada perdagangan Jumat (28/8) setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat masih berkomitmen membawa inflasi kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut mendorong kenaikan yield Treasury jangka pendek dan mengurangi sebagian momentum risk-on yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong reli aset kripto. Bitcoin sempat merosot hampir 4% ke sekitar US$76.871 sebelum bergerak lebih stabil. Secara mingguan, pergerakannya relatif datar setelah pada pekan sebelumnya melonjak sekitar 23%. Koreksi terbaru belum menghapus pemulihan besar Bitcoin dari area US$62.000, tetapi harga masih berada sekitar 40% di bawah rekor tertinggi sekitar US$126.000 yang dicapai pada Oktober lalu. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar kripto kembali sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Ketika invest...
  Imbal Hasil Obligasi AS Naik Lagi, Yen Jepang Kembali Tertekan dan USD/JPY Mendekati Level 160 Nilai tukar yen Jepang kembali melemah terhadap dolar AS setelah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan baru terhadap greenback. Pasangan mata uang USD/JPY mengakhiri perdagangan Kamis (20 Agustus) dengan menguat sekitar 0,6% ke level 159,12. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap yen kembali meningkat setelah sebelumnya sempat mendapatkan dukungan dari pelemahan imbal hasil Treasury AS. Kenaikan USD/JPY terjadi ketika investor kembali menjual obligasi pemerintah AS sehingga mendorong imbal hasil Treasury lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dibandingkan aset yen, terutama karena selisih imbal hasil antara Amerika Serikat dan Jepang masih relatif lebar. Pergerakan pasar juga menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah AS untuk memperluas program pembelian kembali obligasi jangka panjang belum m...
Harga Emas Anjlok, Yield Obligasi dan Lonjakan Harga Minyak Tekan XAU/USD Harga emas dunia mengalami tekanan kuat pada perdagangan Selasa, 18 Agustus, setelah lonjakan imbal hasil obligasi global dan kenaikan harga energi kembali mengurangi daya tarik logam mulia. Harga emas spot turun sekitar 1,1% menjadi US$4.364,90 per troy ounce , sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup melemah 1,2% ke US$4.420,60 per troy ounce. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa emas kembali menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi. Kenaikan yield obligasi jangka panjang di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman membuat aset berbunga menjadi semakin menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan pendapatan bunga. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Kebuntuan diplomasi AS-Iran, sikap militer Iran yang semakin agresif, serta keputusan Teheran mempertahankan penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global...