Langsung ke konten utama

Postingan

Harga Minyak Turun Tiga Hari Beruntun, Konflik Iran Masih Bayangi Pasar Energi Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (18/9), memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Brent berada di sekitar US$103,84 per barel , sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$101,07 per barel . Penurunan tersebut mencerminkan mulai meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, sementara investor semakin mencermati perkembangan diplomasi terkait konflik Iran. Tekanan terhadap harga minyak menguat setelah Brent dan WTI terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi sebelumnya. Pasar mulai melihat kemungkinan bahwa sebagian infrastruktur energi yang terdampak serangan dapat kembali beroperasi lebih cepat dari perkiraan. Prospek pemulihan pasokan tersebut mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam. Pemulihan Pipa Saudi Tekan Harga Minyak Salah satu faktor utama ya...
Postingan terbaru
Yield Tembus 5%, Bitcoin dan Ethereum Kembali Melemah Jelang Keputusan The Fed Pasar kripto kembali bergerak melemah pada sesi Eropa Selasa (15/9), ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pemungutan suara penting terkait regulasi aset digital di Amerika Serikat. Bitcoin kembali berada di bawah US$77.000 setelah sempat menguat hingga US$79.582 pada sesi yang sama. Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$76.882, turun 0,99%. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa perhatian pasar kripto masih sangat dipengaruhi kondisi makroekonomi, terutama pergerakan yield Treasury AS dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Kenaikan imbal hasil obligasi hingga di atas 5% membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi. Bitcoin Tertekan di Bawah US$77.000 Pergerakan Bitcoin menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sepanjang perdagangan Selasa. Aset kripto terbesar berdasarkan kapita...
Konflik Hormuz Makin Panas, Pasar Energi Kembali Waspada Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat dan membuat pasar energi global berada dalam kondisi waspada. Media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal komersial Iran terkena serangan pada Sabtu, dengan insiden tersebut dilaporkan menewaskan satu orang. Peristiwa ini menambah daftar gangguan keamanan di kawasan strategis yang menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia. Dalam kejadian terpisah, United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) melaporkan sebuah kapal lain terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di Selat Hormuz pada Sabtu malam. Munculnya dua insiden tersebut memperkuat kekhawatiran investor dan pelaku industri pelayaran mengenai meningkatnya risiko terhadap kapal komersial yang melintasi jalur strategis tersebut. Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasar Minyak Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat penting bagi perdagangan energi global karena menjadi jalur utama bagi peng...
Treasury Buyback Kurang Nendang, Wall Street Ikut Tertekan oleh Yield dan Harga Minyak Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9), setelah investor menghadapi tekanan dari dua faktor utama, yaitu kenaikan yield Treasury dan lonjakan harga minyak mentah. S&P 500 turun 0,36% menjadi 7.645,67, Nasdaq Composite melemah 0,55% ke 26.276,96, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,59% dan berakhir di sekitar 52.475. Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek inflasi serta arah kebijakan Federal Reserve. Pasar sebelumnya berharap program pembelian kembali Treasury oleh Departemen Keuangan AS dapat membantu menopang permintaan obligasi dan menekan yield. Namun, besaran buyback yang diumumkan ternyata belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor. Treasury Buyback US$6 Miliar Belum Mampu Redam Yield Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana membeli kembali T...
Dolar Tertekan, Yen Melonjak ke Level Terkuat Sejak Februari Dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan terhadap yen Jepang pada perdagangan terbaru. Pasangan USD/JPY merosot ke sekitar 154,43, turun 1,16% dari penutupan sebelumnya di 156,25, setelah sempat menyentuh level 154,06. Pergerakan tersebut membawa yen Jepang ke posisi terkuat sejak Februari sekaligus memperpanjang tren penguatan yen dalam beberapa sesi terakhir. Penguatan yen terjadi ketika pasar semakin agresif memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi terhadap normalisasi kebijakan moneter Jepang semakin kuat karena inflasi masih berada di sekitar level yang dinilai konsisten dengan target bank sentral. Kondisi ini membuat investor melihat peluang bahwa BOJ belum selesai dengan siklus pengetatan kebijakan moneternya. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Tekan USD/JPY Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan yen adalah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku...
Bitcoin Dekati Puncak Agustus, Level US$82.000 Jadi Penentu Arah Berikutnya Harga Bitcoin kembali melonjak tajam pada perdagangan Kamis (3/9), memperkuat pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan hingga berada di bawah US$77.000. Bitcoin menguat sekitar 5% ke kisaran US$81.300 , sekaligus mendekati kembali level tertinggi Agustus di sekitar US$82.000 . Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset berisiko mulai pulih. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury menjadi katalis utama yang mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk cryptocurrency. Sentimen tersebut semakin kuat setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja. Pelemahan Pasar Tenaga Kerja AS Dukung Bitcoin Salah satu faktor yang menopang reli Bitcoin adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Data ADP yan...
GDP Australia Beri Kejutan, Pertumbuhan Kuartal II 2026 Lampaui Ekspektasi Pasar Ekonomi Australia memberikan kejutan positif pada kuartal II 2026 setelah produk domestik bruto (GDP) tumbuh lebih kuat dari perkiraan pasar. Data terbaru menunjukkan GDP Australia meningkat 0,4% secara kuartalan, membaik dari pertumbuhan 0,3% pada kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar sebesar 0,3%. Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa perekonomian Australia masih memiliki daya tahan meskipun menghadapi tekanan suku bunga dan perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA), terutama terkait ruang untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut. Secara tahunan, ekonomi Australia tumbuh 2,1% pada kuartal II 2026. Angka ini memang melambat dibandingkan pertumbuhan 2,5% pada kuartal I dan menjadi pertumbuhan tahunan terendah dalam tiga kuartal. Namun, realisasi tersebut tetap lebih tinggi dari konsens...