Langsung ke konten utama

Postingan

  Trump–Xi Bertemu, Pasar Global Menanti Arah Hubungan Washington–Beijing Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menjadi salah satu agenda yang paling diperhatikan investor global. Dialog antara pemimpin dua ekonomi terbesar dunia tersebut berpotensi memberikan arah baru bagi hubungan Washington–Beijing , terutama terkait perdagangan, teknologi, investasi, dan stabilitas ekonomi global. Pertemuan Trump–Xi berlangsung ketika pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai prospek perdagangan internasional dan persaingan strategis kedua negara. Karena itu, setiap pernyataan maupun kesepakatan yang dihasilkan dapat menjadi katalis bagi berbagai kelas aset, mulai dari saham Asia, dolar AS, hingga harga emas. Perdagangan dan Tarif Menjadi Fokus Utama Investor Salah satu isu terpenting dalam agenda Trump–Xi adalah kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat terhadap China. Kebijakan tarif memiliki dampak luas karena dapat memengaruhi biaya impor, ran...
Postingan terbaru
Bitcoin Kembali Bangkit, Pasar Pantau Resistance US$90 Ribu Pasar aset kripto kembali menguat pada perdagangan Senin (21/9), dengan Bitcoin (BTC) menjadi salah satu aset digital yang paling diperhatikan investor. Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$86.000 dan mempertahankan momentum penguatan sejak pertengahan September, sementara pasar mulai memantau area US$88.000 hingga US$90.000 sebagai zona resistance penting. Pemulihan Bitcoin berlangsung di tengah kondisi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat. Federal Reserve (The Fed) sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai bagian dari upaya menjaga inflasi tetap bergerak menuju target 2%. Kenaikan suku bunga biasanya memberikan tantangan bagi aset berisiko seperti kripto karena meningkatkan daya tarik instrumen yang menawarkan imbal hasil. Namun, respons Bitcoin menunjukkan bahwa sebagian tekanan dari kebijakan tersebut telah diperhitungkan oleh pasar. Investor mulai mengalihkan perhatian kepada prospek i...
Harga Minyak Turun Tiga Hari Beruntun, Konflik Iran Masih Bayangi Pasar Energi Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (18/9), memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Brent berada di sekitar US$103,84 per barel , sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$101,07 per barel . Penurunan tersebut mencerminkan mulai meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, sementara investor semakin mencermati perkembangan diplomasi terkait konflik Iran. Tekanan terhadap harga minyak menguat setelah Brent dan WTI terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi sebelumnya. Pasar mulai melihat kemungkinan bahwa sebagian infrastruktur energi yang terdampak serangan dapat kembali beroperasi lebih cepat dari perkiraan. Prospek pemulihan pasokan tersebut mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam. Pemulihan Pipa Saudi Tekan Harga Minyak Salah satu faktor utama ya...
Yield Tembus 5%, Bitcoin dan Ethereum Kembali Melemah Jelang Keputusan The Fed Pasar kripto kembali bergerak melemah pada sesi Eropa Selasa (15/9), ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pemungutan suara penting terkait regulasi aset digital di Amerika Serikat. Bitcoin kembali berada di bawah US$77.000 setelah sempat menguat hingga US$79.582 pada sesi yang sama. Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$76.882, turun 0,99%. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa perhatian pasar kripto masih sangat dipengaruhi kondisi makroekonomi, terutama pergerakan yield Treasury AS dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Kenaikan imbal hasil obligasi hingga di atas 5% membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi. Bitcoin Tertekan di Bawah US$77.000 Pergerakan Bitcoin menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sepanjang perdagangan Selasa. Aset kripto terbesar berdasarkan kapita...
Konflik Hormuz Makin Panas, Pasar Energi Kembali Waspada Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat dan membuat pasar energi global berada dalam kondisi waspada. Media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal komersial Iran terkena serangan pada Sabtu, dengan insiden tersebut dilaporkan menewaskan satu orang. Peristiwa ini menambah daftar gangguan keamanan di kawasan strategis yang menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia. Dalam kejadian terpisah, United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) melaporkan sebuah kapal lain terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di Selat Hormuz pada Sabtu malam. Munculnya dua insiden tersebut memperkuat kekhawatiran investor dan pelaku industri pelayaran mengenai meningkatnya risiko terhadap kapal komersial yang melintasi jalur strategis tersebut. Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasar Minyak Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat penting bagi perdagangan energi global karena menjadi jalur utama bagi peng...
Treasury Buyback Kurang Nendang, Wall Street Ikut Tertekan oleh Yield dan Harga Minyak Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9), setelah investor menghadapi tekanan dari dua faktor utama, yaitu kenaikan yield Treasury dan lonjakan harga minyak mentah. S&P 500 turun 0,36% menjadi 7.645,67, Nasdaq Composite melemah 0,55% ke 26.276,96, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,59% dan berakhir di sekitar 52.475. Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek inflasi serta arah kebijakan Federal Reserve. Pasar sebelumnya berharap program pembelian kembali Treasury oleh Departemen Keuangan AS dapat membantu menopang permintaan obligasi dan menekan yield. Namun, besaran buyback yang diumumkan ternyata belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor. Treasury Buyback US$6 Miliar Belum Mampu Redam Yield Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana membeli kembali T...
Dolar Tertekan, Yen Melonjak ke Level Terkuat Sejak Februari Dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan terhadap yen Jepang pada perdagangan terbaru. Pasangan USD/JPY merosot ke sekitar 154,43, turun 1,16% dari penutupan sebelumnya di 156,25, setelah sempat menyentuh level 154,06. Pergerakan tersebut membawa yen Jepang ke posisi terkuat sejak Februari sekaligus memperpanjang tren penguatan yen dalam beberapa sesi terakhir. Penguatan yen terjadi ketika pasar semakin agresif memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi terhadap normalisasi kebijakan moneter Jepang semakin kuat karena inflasi masih berada di sekitar level yang dinilai konsisten dengan target bank sentral. Kondisi ini membuat investor melihat peluang bahwa BOJ belum selesai dengan siklus pengetatan kebijakan moneternya. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Tekan USD/JPY Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan yen adalah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku...