Harga Minyak Menguat Tipis Jelang Perundingan AS–Iran, Pasar Waspadai Risiko Eskalasi
Harga minyak dunia mencatat kenaikan tipis menjelang putaran terbaru perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis di Jenewa. Pelaku pasar menimbang peluang tercapainya kesepakatan diplomatik, namun tetap berhati-hati karena pengerahan besar-besaran aset militer AS di Timur Tengah menjaga risiko eskalasi tetap tinggi. Ketidakpastian geopolitik ini membuat volatilitas harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan headline terkait Iran.Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$66 per barel setelah ditutup melemah sekitar 1% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, Brent Crude bertahan di bawah US$71 per barel. Pergerakan ini mencerminkan fase konsolidasi pasar energi global, di mana investor memilih menunggu kepastian arah diplomasi sebelum mengambil posisi besar.
Ketegangan geopolitik kembali menjadi fokus utama setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Direktur Central Intelligence Agency (CIA) memberikan pengarahan kepada anggota parlemen senior terkait Iran. Langkah ini memicu spekulasi di pasar bahwa opsi militer masih berada di atas meja, meskipun jalur diplomasi tetap dikedepankan.
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa diplomasi adalah pilihan utama pemerintahannya. Namun, ia juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan menjadi situasi yang “sangat buruk” bagi Teheran. Pernyataan tersebut memperkuat sensitivitas pasar terhadap setiap sinyal kebijakan luar negeri AS, terutama karena Iran merupakan salah satu produsen minyak utama yang dapat memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Perundingan nuklir dijadwalkan berlangsung di Geneva, dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, serta penasihat senior Jared Kushner, dikabarkan kembali bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, guna melanjutkan negosiasi. Hasil pembicaraan ini berpotensi menentukan arah pasokan minyak Iran ke pasar internasional, terutama jika sanksi ekonomi dilonggarkan.
Di perdagangan Asia, kontrak WTI pengiriman April naik 0,6% ke US$66,02 per barel pada pukul 07:32 waktu Singapura. Sementara itu, kontrak Brent April ditutup melemah 1% pada Selasa di level US$70,77 per barel. Perbedaan pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase “wait and see”, menanti kepastian diplomatik sebelum membentuk tren baru.
Secara fundamental, harga minyak tahun ini sempat menguat meskipun terdapat ekspektasi peningkatan pasokan global. Hal ini menandakan bahwa faktor geopolitik masih menjadi pendorong utama volatilitas energi. Jika kesepakatan nuklir tercapai, potensi tambahan ekspor minyak Iran dapat menekan harga. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau meningkatnya konflik militer berpotensi mendorong lonjakan harga akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
Dalam jangka pendek, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh hasil pembicaraan di Jenewa serta sinyal kebijakan lanjutan dari Washington dan Teheran. Pasar energi global tetap berada dalam kondisi rapuh, di mana keseimbangan antara diplomasi dan risiko konflik menjadi faktor kunci pergerakan harga.
Komentar
Posting Komentar