Bank Sentral Terus Borong Emas: Strategi Global di Tengah Ketidakpastian Ekonomi 2025
Bank sentral di berbagai negara kembali memperkuat cadangan emas mereka, menjadi salah satu pendorong utama stabilnya harga emas di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada kuartal pertama 2025, bank sentral menambah sekitar 244 ton emas ke dalam cadangan mereka. Pembelian terbesar dilakukan oleh Bank Sentral Polandia dengan sekitar 49 ton, disusul Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) sekitar 13 ton. Total cadangan emas Tiongkok kini mencapai 2.292 ton, menegaskan posisinya sebagai salah satu pemegang emas terbesar di dunia.
Memasuki Agustus 2025, pembelian emas global oleh bank sentral mencapai sekitar 19 ton. Survei World Gold Council (WGC) menunjukkan 95% bank sentral berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan. Data tersebut menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama terhadap inflasi, pelemahan mata uang, serta risiko geopolitik yang semakin meningkat di berbagai kawasan.
Sementara itu, permintaan fisik emas di Asia menunjukkan dinamika yang beragam. Di Tiongkok, penarikan emas dari Shanghai Gold Exchange (SGE) pada paruh pertama 2025 tercatat 678 ton—turun 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan 22% di bawah rata-rata 10 tahun. Meski permintaan ritel melambat, harga emas fisik di pasar Tiongkok tetap tinggi, terutama didorong permintaan institusional yang solid.
Di India, tingginya harga emas serta depresiasi rupee sempat menahan pembelian ritel. Namun, dalam tiga bulan terakhir, impor emas melonjak sekitar 100 ton. Kenaikan ini didorong musim festival, kebutuhan pernikahan, serta perbaikan kondisi ekonomi pedesaan yang meningkatkan daya beli masyarakat.
Para analis menilai kombinasi pembelian agresif bank sentral dan meningkatnya permintaan fisik dari beberapa negara tetap menjadi fondasi kuat bagi stabilitas harga emas global. Meski perlambatan permintaan di Tiongkok membatasi ruang kenaikan lebih lanjut, sentimen safe haven serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter terus memberi dukungan bagi logam mulia ini, menjaga momentum bullish sepanjang 2025.
Sumber: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar