Langsung ke konten utama

Harga Minyak Melemah di Tengah Gencatan Senjata Israel–Hezbollah dan Penurunan Stok AS


Harga minyak dunia kembali mencatat penurunan tipis dalam perdagangan Asia pada Rabu, memperpanjang tren pelemahan setelah Israel menyetujui kesepakatan gencatan senjata selama dua bulan. Sentimen pasar yang lebih tenang akibat meredanya ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menekan harga minyak dalam dua sesi terakhir.

Kontrak futures Brent untuk pengiriman Januari turun 0,2% ke USD 72,70 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,2% ke USD 68,30 per barel pada pukul 20:47 ET (01:47 GMT). Meskipun penurunan ini relatif kecil, pergerakan harga mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang kini menimbang dampak geopolitik dan dinamika fundamental pasar minyak.

Sebagian tekanan tersebut sedikit teredam oleh laporan Reuters yang menyebutkan bahwa OPEC+ tengah mempertimbangkan penundaan lebih lanjut terhadap rencana peningkatan produksi. Keputusan resmi akan dibahas dalam pertemuan kartel pada 1 Desember, yang berpotensi menjadi katalis penting bagi arah harga minyak bulan depan. Jika penundaan benar terjadi, suplai global dapat tetap ketat sehingga menopang harga di atas level supportnya.

Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute (API) memberikan kejutan positif setelah menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun hampir 6 juta barel pada pekan yang berakhir 22 November. Para analis sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,25 juta barel, menyusul lonjakan 4,75 juta barel pada pekan sebelumnya. Penurunan besar ini meningkatkan harapan bahwa permintaan bahan bakar AS masih cukup kuat dan dapat memperketat pasokan dalam beberapa bulan mendatang. Biasanya, data API sejalan dengan laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis pada Rabu.

Di tengah dinamika fundamental ini, faktor geopolitik juga memainkan peran signifikan. Harga minyak tertekan setelah laporan media sebelumnya mengindikasikan bahwa gencatan senjata Israel–Hezbollah semakin dekat. Presiden AS Joe Biden kemudian secara resmi mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa. Dalam perjanjian itu, pasukan Israel akan menarik diri dari Lebanon dalam 60 hari, sementara Hezbollah akan meninggalkan wilayah antara "Blue Line," garis demarkasi tidak resmi antara Lebanon dan Israel. Meredanya konflik ini mengurangi risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, sehingga menekan premia risiko pada harga minyak.

Dengan kombinasi penurunan ketegangan geopolitik, data stok AS yang lebih ketat, serta ketidakpastian mengenai kebijakan produksi OPEC+, pasar minyak kini memasuki fase penuh kalkulasi. Para pelaku pasar menantikan data resmi EIA dan keputusan OPEC+ untuk menentukan arah pergerakan harga selanjutnya menjelang akhir tahun.

Lebanon and Israel.

Source: Trading Economics

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...