Langsung ke konten utama

Bursa Asia Melemah, Saham Teknologi Kehilangan Momentum


Pasar saham Asia dibuka melemah mengikuti kejatuhan tajam Wall Street, ketika investor kembali menghindari aset berisiko. Bursa saham di Jepang dan Australia terkoreksi pada awal perdagangan, disusul pelemahan pada kontrak berjangka Hong Kong. Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, setelah indeks Nasdaq 100 anjlok 1,9% dan saham Nvidia merosot 3,8% ke level terendah sejak September, sehingga menekan sentimen global secara luas.

Aksi jual besar-besaran pada saham teknologi mencerminkan meningkatnya skeptisisme investor terhadap valuasi yang dinilai terlalu tinggi serta belanja besar perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam euforia kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kekhawatiran terhadap membengkaknya biaya pembangunan pusat data, di tengah tuntutan pertumbuhan yang agresif, membuat pelaku pasar semakin berhati-hati. Pergeseran sentimen ini mendorong arus dana keluar dari aset berisiko dan mengarah ke instrumen yang lebih aman.

Aliran dana ke aset safe haven terlihat dari penguatan obligasi pemerintah jangka pendek, serta kenaikan harga emas dan perak. Di sisi lain, aset kripto seperti Bitcoin turut tertekan, meskipun sempat mencatatkan pemulihan terbatas setelah penurunan awal. Pola ini menegaskan meningkatnya sikap defensif investor di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi pasar keuangan.

Volatilitas pasar juga dipicu oleh faktor global lainnya, mulai dari risiko geopolitik yang melibatkan Rusia dan Venezuela yang turut menopang harga minyak, hingga penantian rilis data inflasi Amerika Serikat yang krusial. Di kawasan Asia, pasar Jepang justru mencatat pergerakan relatif stabil menjelang potensi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan, sementara China tengah menimbang langkah restrukturisasi utang besar di sektor properti. Menjelang akhir tahun, pasar diperkirakan tetap bergejolak seiring menipisnya likuiditas dan mulai diuji kembali kepercayaan investor terhadap saham-saham teknologi raksasa.


Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...