Langsung ke konten utama

Dolar AS Tertekan, Pasar Menjauh dari Aset Amerika di Tengah Drama Greenland


Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan, tercermin dari pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang melanjutkan tren menurun. Sentimen global memburuk setelah eskalasi isu Greenland kembali mencuat bersamaan dengan ancaman perang tarif antara Amerika Serikat dan Eropa. Alih-alih mengalir ke dolar, arus dana global justru bergerak menuju aset safe haven alternatif seperti emas, yen Jepang, dan franc Swiss, membuat dolar kehilangan momentum untuk bangkit secara cepat.

Tekanan terbesar terhadap dolar datang dari kembalinya narasi “Sell America” di pasar keuangan global. Investor semakin sensitif terhadap risiko kebijakan Amerika Serikat yang berpotensi memicu konflik dagang baru. Ketidakpastian mengenai respons Eropa menjadi faktor kunci yang membebani sentimen, karena selama pasar belum melihat tanda-tanda deeskalasi yang jelas, DXY cenderung bergerak defensif dan rentan melemah setiap kali muncul berita yang memperkeruh situasi.

Di luar isu tarif, pasar juga mencermati persoalan yang lebih fundamental, yakni kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve. Setiap perkembangan yang dipersepsikan sebagai tekanan politik terhadap bank sentral AS berpotensi mengikis kepercayaan investor terhadap aset-aset Amerika. Dalam kondisi seperti ini, dolar biasanya menjadi lebih reaktif terhadap berita dan rumor, dengan volatilitas yang meningkat meskipun tidak diiringi perubahan signifikan pada faktor fundamental.

Dari sisi data ekonomi, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menantikan rilis data penting pekan ini, khususnya data inflasi yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Sikap “menunggu data” ini membuat pasar enggan menambah posisi besar, sehingga pergerakan dolar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dibandingkan perubahan ekspektasi suku bunga.

Secara keseluruhan, selama ketegangan terkait Greenland dan ancaman perang tarif masih membayangi, pergerakan Indeks Dolar AS cenderung berada dalam pola bearish-sideways. Dolar relatif mudah tertekan saat terjadi eskalasi isu, sementara setiap upaya pemulihan biasanya terbatas tanpa adanya kabar kompromi yang jelas. Fokus utama pasar saat ini tertuju pada headline, bukan angka ekonomi, karena satu pernyataan saja dapat dengan cepat mengubah arah pergerakan dolar di pasar global.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...