Emas Tembus US$4.800, Lonjakan Safe Haven di Tengah Gejolak Global
Harga emas kembali mencetak rekor baru dengan menembus level US$4.800 per ons dalam perdagangan Asia pagi ini. Lonjakan ini menegaskan pergeseran besar sentimen pasar global ke mode “zona aman”, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan kembalinya keresahan di pasar obligasi global. Investor secara agresif meninggalkan aset berisiko dan memilih instrumen lindung nilai, dengan emas menjadi tujuan utama arus modal.
Pemicu terbesar reli emas berasal dari memburuknya krisis Greenland. Ancaman Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu tersebut memaksa pelaku pasar memperhitungkan risiko perang dagang sebagai skenario yang semakin nyata. Dalam kondisi seperti ini, pola pasar cenderung konsisten: eksposur terhadap saham dan aset berisiko ditekan, sementara permintaan terhadap safe haven meningkat tajam. Emas, sebagai aset tanpa risiko gagal bayar dan bebas kebijakan pemerintah tertentu, kembali mengambil peran sentral.
Penguatan emas semakin diperkuat oleh pelemahan dolar AS. Berbeda dari kondisi normal, tekanan terhadap dolar kali ini justru bersumber dari kebijakan Amerika Serikat sendiri, sehingga sebagian investor memilih mengurangi kepemilikan aset berbasis dolar. Ketika dolar melemah, harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar otomatis menjadi lebih murah bagi pembeli non-dolar, mendorong lonjakan permintaan global dan mempercepat kenaikan harga.
Dari sisi pasar obligasi, volatilitas pada Japanese Government Bonds (JGBs) turut mengguncang kepercayaan investor. Fluktuasi tajam pada imbal hasil obligasi Jepang memunculkan kekhawatiran yang lebih luas terkait kondisi fiskal negara-negara maju dan stabilitas pasar utang global. Ketika instrumen yang biasanya dianggap aman justru bergejolak, investor cenderung mencari perlindungan yang sepenuhnya independen dari risiko kebijakan dan kredit. Dalam situasi “saham tertekan dan obligasi tidak nyaman”, emas kembali menjadi jawaban.
Kombinasi krisis Greenland, pelemahan dolar AS, dan volatilitas JGBs memunculkan tema yang semakin kuat dibicarakan pasar, yakni “debasement trade”. Investor mulai menilai risiko penurunan nilai mata uang dan melemahnya kepercayaan terhadap obligasi pemerintah sebagai tren yang meningkat. Akibatnya, aset fisik seperti emas dan perak dipilih sebagai pelindung nilai terhadap erosi daya beli dan ketidakpastian sistem keuangan.
Tekanan risk-off juga tercermin jelas dari pelemahan pasar saham global, terutama pada saham-saham sensitif suku bunga dan sektor pertumbuhan. Ketika valuasi saham tertekan dan pasar obligasi kehilangan daya tarik defensifnya, aliran dana secara historis cenderung mengalir ke logam mulia. Dalam konteks ini, emas dipandang sebagai alternatif defensif paling “netral” di tengah lanskap risiko yang kompleks.
Ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat turut memperkuat reli emas. Selama peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka, daya tarik emas meningkat karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah. Selain itu, spekulasi terkait arah kebijakan bank sentral dan dinamika politik global mendorong investor untuk “memarkir” dana di emas hingga ketidakpastian mereda.
Setelah level psikologis penting berhasil ditembus, pergerakan harga emas cenderung semakin cepat akibat faktor psikologis dan posisi spekulatif. Penembusan rekor sering kali memicu gelombang order lanjutan dan efek bandwagon, di mana fenomena FOMO mendorong harga melonjak tajam dalam waktu singkat. Pola ini umum terjadi ketika emas memasuki zona harga baru.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada dua faktor utama: respons Eropa terhadap ancaman tarif terkait Greenland dan arah pernyataan pejabat AS yang berpotensi mengubah persepsi risiko. Jika ketegangan geopolitik mereda atau pasar obligasi kembali stabil, koreksi teknikal mungkin terjadi. Namun selama ketidakpastian global tetap tinggi, emas berpeluang mempertahankan kekuatannya, dengan satu alasan sederhana: investor sedang membeli “keamanan”.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar