Dolar AS Tetap Perkasa di Tengah Keraguan De-eskalasi Iran, Pasar Forex Diliputi Ketidakpastian
Pasar valuta asing global menunjukkan dinamika yang cepat dan penuh tekanan seiring perubahan sentimen geopolitik yang tajam. Pada perdagangan Rabu, optimisme awal terkait potensi pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sempat meredakan ketegangan. Namun, sentimen tersebut dengan cepat memudar setelah Iran mengisyaratkan keengganannya untuk terlibat lebih jauh dengan AS, menegaskan rapuhnya jalur diplomasi dan menjaga pasar tetap dalam kondisi waspada.
Indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) bertahan di dekat level psikologis 100 dan terakhir diperdagangkan di kisaran 99,50. Kekuatan dolar didorong oleh kombinasi permintaan sebagai aset safe haven serta perbedaan suku bunga yang masih menguntungkan Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, investor cenderung mencari perlindungan pada dolar, terutama ketika selera risiko mulai melemah.
Di kawasan Eropa, pasangan EUR/USD mengalami tekanan dan turun ke level sekitar 1,1569. Penguatan dolar menjadi faktor utama yang membatasi penguatan euro. Selain itu, data aktivitas ekonomi yang lemah dari kawasan Zona Euro, khususnya indikator PMI, memperkuat kekhawatiran akan perlambatan ekonomi regional. Kondisi ini membuat euro sulit untuk mendapatkan momentum positif dalam jangka pendek.
Sementara itu, GBP/USD juga mengalami penurunan ke kisaran 1,3367. Mata uang poundsterling menghadapi tantangan ganda dari prospek pertumbuhan ekonomi Inggris yang melambat serta tekanan inflasi yang masih tinggi. Kombinasi ini menciptakan ketidakpastian kebijakan moneter dan membuat investor berhati-hati dalam mengambil posisi terhadap mata uang Inggris.
Di Asia, pasangan USD/JPY menguat ke kisaran 159,23–159,30. Kenaikan ini didorong oleh tingginya imbal hasil obligasi AS serta perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan. Sementara The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, Bank of Japan masih berada dalam jalur kebijakan longgar, menciptakan celah yang memperkuat dolar terhadap yen.
Di sisi lain, AUD/USD melemah ke sekitar 0,6976. Dolar Australia yang dikenal sebagai mata uang berbasis risiko (risk-sensitive currency) tertekan oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik dan potensi perlambatan ekonomi membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi.
Ke depan, pelaku pasar akan memusatkan perhatian pada tiga faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan forex global. Pertama, perkembangan diplomasi dan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang akan memengaruhi sentimen risiko. Kedua, pergerakan imbal hasil obligasi AS yang menjadi acuan utama dalam diferensial suku bunga global. Ketiga, rilis data ekonomi, khususnya dari Eropa dan Asia, yang akan membentuk narasi pertumbuhan global.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, dolar AS tetap menjadi jangkar stabilitas. Namun, arah selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan kekuatan fundamental ekonomi global.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar