Langsung ke konten utama

Harga Minyak Brent Melonjak, Risiko Pasokan Global Meningkat Akibat Serangan Houthi


Harga minyak dunia kembali menguat di awal pekan, dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Minyak Brent tercatat naik dan diperdagangkan di kisaran $115,30 per barel pada sesi Asia, sementara WTI juga menguat signifikan. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko energi yang telah bertahan sejak konflik dimulai, terutama setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan terhadap Israel.

Serangan tersebut menandai babak baru dalam konflik regional yang semakin kompleks. Kelompok Houthi menyatakan bahwa operasi militer mereka akan terus berlanjut hingga serangan terhadap Iran dan sekutunya dihentikan. Pernyataan ini langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, terutama karena konflik kini meluas melibatkan lebih banyak aktor dan jalur strategis.

Pasar energi global kini tidak hanya fokus pada Selat Hormuz, tetapi juga mulai mencermati risiko baru di Bab el-Mandeb dan jalur Laut Merah. Meskipun kelompok Houthi belum secara eksplisit mengancam jalur pelayaran tersebut, kemampuan mereka untuk mengganggu rute ini menjadi perhatian serius. Jalur Bab el-Mandeb merupakan alternatif penting ketika akses melalui Selat Hormuz terganggu, sehingga setiap potensi ancaman di area ini dapat memperburuk ketegangan pasokan.

Selain jalur pelayaran, infrastruktur energi juga menjadi fokus risiko. Pelabuhan-pelabuhan di Arab Saudi yang berada di Laut Merah, yang selama ini berfungsi sebagai jalur ekspor alternatif saat Selat Hormuz tidak stabil, kini turut berada dalam bayang-bayang ancaman. Kondisi ini memperluas spektrum risiko, tidak hanya pada distribusi tetapi juga pada titik produksi dan ekspor energi.

Dari sisi fundamental, pembatasan lalu lintas kapal oleh Iran di Selat Hormuz semakin memperketat pasokan dalam jangka pendek. Hanya sejumlah kapal tertentu yang diizinkan melintas, menciptakan tekanan nyata pada ketersediaan fisik minyak di pasar global. Laporan dari Reuters menegaskan bahwa lonjakan harga minyak saat ini bukan sekadar reaksi terhadap berita harian, melainkan mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap gangguan pasokan nyata.

Struktur pasar yang semakin bullish menunjukkan bahwa investor lebih fokus pada risiko kelangkaan fisik daripada sekadar volatilitas jangka pendek. Ini menandakan bahwa premi geopolitik masih kuat dan berpotensi bertahan selama ketidakpastian belum mereda.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: apakah kelompok Houthi memperluas tekanan ke jalur Laut Merah, bagaimana kebijakan akses Iran di Selat Hormuz berkembang, serta dinamika peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan. Ketiga faktor ini akan menjadi penentu apakah premi risiko geopolitik tetap tinggi atau mulai mereda dalam waktu dekat.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...