Langsung ke konten utama

Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah Dua Pekan di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran


Harga minyak dunia jatuh tajam ke level terendah dalam dua pekan terakhir setelah meningkatnya optimisme bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir. Sentimen pasar membaik drastis setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan awal untuk menghentikan perang yang selama ini mengguncang pasar energi global.

Minyak mentah Brent ditutup turun sebesar US$8,60 atau sekitar 7,83% ke level US$101,27 per barel. Dalam perdagangan intraday, Brent bahkan sempat jatuh di bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir April. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi US$7,19 atau sekitar 7,03% dan ditutup di level US$95,08 per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut mencatat posisi terendah dalam dua minggu terakhir, menandakan perubahan besar dalam persepsi risiko pasar terhadap kondisi geopolitik Timur Tengah. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu pasokan energi global, khususnya melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.

Tekanan jual di pasar minyak semakin kuat setelah sumber dari mediator Pakistan mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran hampir menyelesaikan memorandum kesepahaman satu halaman sebagai langkah awal menuju penghentian konflik. Iran juga mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau proposal terbaru dari Amerika Serikat dan akan segera memberikan respons resmi melalui Pakistan sebagai mediator diplomatik.

Sebelumnya, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka hanya akan menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jalur negosiasi masih terbuka meskipun proses diplomasi tetap berjalan sangat sensitif dan penuh ketidakpastian.

Laporan media Amerika Serikat juga menyebutkan bahwa Washington mengharapkan jawaban Iran terhadap sejumlah poin penting dalam waktu 48 jam ke depan. Situasi ini dinilai sebagai momen paling dekat menuju tercapainya kesepakatan sejak konflik dimulai beberapa minggu lalu.

Meningkatnya harapan terhadap de-eskalasi membuat pelaku pasar mulai memperkirakan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, bahkan jika perjanjian damai permanen belum sepenuhnya tercapai. Prospek tersebut menjadi faktor utama yang mendorong aksi jual besar-besaran di pasar minyak karena risiko gangguan distribusi energi global dinilai mulai berkurang.

Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan energi dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar internasional. Ketika risiko blokade atau gangguan di wilayah tersebut menurun, pasar cenderung langsung merespons dengan penurunan harga minyak.

Turunnya harga minyak juga membawa dampak positif terhadap pasar keuangan global secara lebih luas. Penurunan biaya energi membantu meredakan tekanan inflasi global yang selama ini menjadi perhatian utama bank sentral, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat. Dengan inflasi energi yang mulai melunak, investor mulai memperkirakan bahwa tekanan kenaikan suku bunga dapat berkurang dalam beberapa bulan mendatang.

Namun demikian, ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar. Harga minyak sempat memangkas sebagian penurunannya setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk mempertimbangkan pembicaraan langsung dengan Teheran. Pernyataan tersebut memunculkan kembali kekhawatiran bahwa proses diplomasi masih dapat berubah sewaktu-waktu.

Selain itu, seorang anggota parlemen senior Iran juga menyebut proposal Amerika Serikat lebih menyerupai daftar keinginan dibandingkan sebuah kesepakatan konkret. Komentar tersebut menunjukkan bahwa negosiasi masih berlangsung dinamis dan belum sepenuhnya menghasilkan titik temu yang jelas antara kedua negara.

Pelaku pasar kini berada dalam fase wait and see sambil menunggu perkembangan terbaru dari respons resmi Iran. Jika kesepakatan awal berhasil dicapai, harga minyak berpotensi melanjutkan penurunan karena pasar akan melihat risiko geopolitik semakin mereda. Sebaliknya, jika negosiasi gagal atau kembali memanas, harga energi dapat kembali melonjak tajam dalam waktu singkat.

Pergerakan harga minyak saat ini juga menjadi indikator penting bagi arah pasar global secara keseluruhan. Stabilitas harga energi sangat memengaruhi inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebijakan suku bunga, hingga sentimen investor terhadap aset berisiko.

Dengan meningkatnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, pasar global untuk sementara menikmati sentimen positif yang mendorong reli saham dan penurunan harga komoditas energi. Meski begitu, volatilitas diperkirakan masih tinggi karena hasil akhir negosiasi tetap belum pasti dan dapat berubah cepat tergantung perkembangan diplomatik berikutnya.

Sumber: Newsmake.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...