Langsung ke konten utama

 

Trump Tunda Serangan ke Iran Setelah Desakan Pemimpin Timur Tengah, Pasar Energi Tetap Waspada


Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya disebut akan berlangsung pada Selasa, 18 Mei. Keputusan tersebut diambil setelah tiga pemimpin utama Timur Tengah meminta Washington untuk menahan diri demi memberi ruang bagi proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataannya melalui platform Truth Social, Trump mengatakan bahwa dirinya telah memerintahkan jajaran militer AS untuk membatalkan operasi yang telah direncanakan. Ia menyebut permintaan itu datang langsung dari Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Menurut Trump, ketiga pemimpin tersebut meyakini bahwa peluang tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Iran masih terbuka lebar. Mereka menilai negosiasi yang sedang berlangsung menunjukkan perkembangan serius sehingga tindakan militer sebaiknya dihindari untuk sementara waktu.

Meski menunda serangan, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap mengambil posisi keras terhadap program nuklir Iran. Ia menekankan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus memastikan Iran tidak memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Washington masih mempertahankan tekanan maksimal terhadap Teheran meskipun jalur diplomasi kembali dibuka.

Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menginstruksikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine untuk tetap berada dalam posisi siaga penuh. Pemerintah AS disebut siap melanjutkan opsi serangan skala besar kapan saja apabila pembicaraan dengan Iran gagal menghasilkan kesepakatan yang dianggap memadai.

Sebelumnya, belum ada konfirmasi resmi bahwa AS benar-benar akan meluncurkan serangan militer pada Selasa. Namun dalam wawancara dengan New York Post, Trump sempat menyatakan bahwa Iran “mengetahui apa yang akan segera terjadi,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Laporan dari Axios juga menyebutkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan kembali operasi militer aktif setelah respons terbaru Iran dalam negosiasi dinilai tidak memuaskan.

Ketegangan geopolitik ini berkembang di tengah konflik militer dan ekonomi yang berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik terpenting distribusi minyak dunia. Kawasan tersebut memegang peranan vital bagi perdagangan energi global karena menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah menuju pasar internasional.

Persaingan pengaruh di Selat Hormuz turut melemahkan efektivitas gencatan senjata yang mulai berlaku hampir enam minggu lalu. Meski secara resmi kesepakatan damai masih berlangsung, bentrokan sporadis dan eskalasi militer terus terjadi sehingga menciptakan ketidakpastian baru bagi pasar global. Bahkan Trump pekan lalu menyebut situasi gencatan senjata tersebut sebagai kondisi yang “kritikal.”

Bagi pasar energi, perkembangan terbaru ini mempertahankan risk premium pada harga minyak dunia. Investor masih melihat ancaman terhadap kelancaran distribusi minyak global sebagai faktor risiko utama, terutama jika akses menuju Selat Hormuz terganggu akibat eskalasi konflik lebih lanjut. Ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut berpotensi menjaga volatilitas harga energi tetap tinggi dalam jangka pendek.

Selain mempengaruhi pasar minyak, ketegangan AS-Iran juga berdampak besar terhadap sentimen investor global. Aset safe haven seperti emas dan dolar AS berpotensi kembali menjadi tujuan utama apabila situasi memburuk. Namun di sisi lain, pasar saham dan aset berisiko cenderung menghadapi tekanan karena meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan rantai pasok energi global.

Pasar kini menunggu perkembangan lanjutan dari negosiasi antara Washington dan Teheran. Jika jalur diplomasi berhasil menghasilkan kesepakatan baru, tekanan geopolitik kemungkinan akan mereda. Namun apabila pembicaraan kembali menemui jalan buntu, ancaman operasi militer AS dapat kembali meningkat dan memicu gejolak lebih besar di pasar keuangan internasional.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...