Langsung ke konten utama

 Dolar AS Kehilangan Momentum, Meredanya Ketegangan Timur Tengah Redakan Permintaan Safe Haven


Dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan tipis pada perdagangan Senin setelah sentimen pasar global membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko mengurangi kebutuhan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah sekitar 0,1 persen dan bertahan di sekitar level psikologis 100,00 pada sesi perdagangan Amerika Serikat, mengakhiri sebagian momentum penguatan yang terbentuk sepanjang pekan sebelumnya.

Pelemahan ini terjadi setelah dolar mencatat kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan Maret. Lonjakan tersebut sebelumnya didorong oleh laporan Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang jauh lebih kuat dari perkiraan pasar. Data ketenagakerjaan yang solid memicu perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan Federal Reserve, dengan meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Kuatnya data tenaga kerja juga memberikan tekanan terhadap pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi naik karena investor menyesuaikan ekspektasi terhadap jalur suku bunga di masa depan. Dalam kondisi seperti itu, dolar biasanya memperoleh dukungan karena menawarkan daya tarik yang lebih besar dibandingkan mata uang utama lainnya. Namun, pada awal pekan ini, fokus pasar mulai bergeser dari data ketenagakerjaan menuju perkembangan inflasi yang dianggap lebih menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang menjadi agenda utama pasar keuangan global minggu ini. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) dijadwalkan dirilis pada hari Rabu, disusul oleh Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis. Kedua laporan tersebut diperkirakan menjadi indikator penting untuk mengukur sejauh mana lonjakan harga energi dalam beberapa bulan terakhir telah memengaruhi harga barang dan jasa di tingkat konsumen maupun produsen.

Bagi Federal Reserve, data inflasi terbaru akan menjadi ujian penting dalam menentukan langkah kebijakan berikutnya. Jika tekanan harga kembali meningkat di atas ekspektasi, peluang kebijakan moneter yang lebih hawkish akan semakin besar. Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang konsisten, pasar dapat mulai mempertimbangkan kemungkinan siklus pelonggaran kebijakan pada periode mendatang. Oleh karena itu, data CPI dan PPI minggu ini berpotensi menjadi katalis utama bagi pergerakan dolar AS, obligasi, saham, serta komoditas global.

Dari sisi geopolitik, pasar sempat berada dalam kondisi waspada tinggi setelah Iran dan Israel kembali terlibat dalam aksi saling serang selama akhir pekan. Ketegangan tersebut menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata yang rapuh diberlakukan pada April lalu. Konflik disebut bermula dari serangan Israel terhadap target di Beirut yang kemudian dibalas oleh Iran. Israel selanjutnya merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Situasi mulai mereda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan penghentian konflik dan mendorong kedua belah pihak untuk segera melakukan gencatan senjata. Pernyataan tersebut mendapatkan respons positif dari pasar karena dianggap mampu mengurangi risiko geopolitik yang sebelumnya memicu peningkatan permintaan terhadap aset aman.

Optimisme pasar semakin menguat setelah media Iran melaporkan bahwa operasi militer terhadap Israel telah dihentikan. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel untuk sementara menghentikan serangan terhadap Iran, meskipun tetap memperingatkan akan memberikan respons keras jika kembali diserang. Pernyataan dari kedua pihak dipandang sebagai bentuk de-eskalasi sementara yang cukup untuk menenangkan pasar keuangan global dan mengurangi tekanan pembelian terhadap dolar AS sebagai aset perlindungan.

Meskipun demikian, para pelaku pasar masih menilai risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Ketegangan yang belum terselesaikan secara permanen membuat investor tetap mempertahankan pendekatan yang berhati-hati. Setiap perkembangan baru dari kawasan Timur Tengah berpotensi memicu perubahan sentimen secara cepat dan meningkatkan volatilitas di pasar mata uang global.

Di pasar valuta asing lainnya, yen Jepang mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS meskipun masih bertahan di atas level 160 per dolar. Level tersebut terus menjadi perhatian investor karena sering dikaitkan dengan potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menstabilkan nilai tukar. Data ekonomi Jepang menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2026 tumbuh sebesar 1,8 persen secara tahunan. Meskipun lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya, angka tersebut masih berada di atas ekspektasi pasar dan memberikan dukungan terhadap mata uang Jepang.

Sementara itu, euro berhasil menguat tipis menuju area US$1,1530 seiring berkurangnya permintaan terhadap dolar AS. Pound sterling bergerak relatif stabil di sekitar US$1,3340 karena investor masih menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai prospek ekonomi Inggris dan kebijakan bank sentral. Pergerakan mata uang utama dunia yang cenderung terbatas menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih memilih menunggu kepastian dari data inflasi Amerika Serikat sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Secara keseluruhan, pergerakan dolar AS saat ini mencerminkan keseimbangan antara meredanya risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter yang masih ketat. Dengan perhatian pasar yang sepenuhnya tertuju pada data inflasi minggu ini, arah pergerakan dolar dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada apakah tekanan harga di Amerika Serikat terus meningkat atau justru mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang lebih meyakinkan.

Kata Kunci SEO: dolar AS hari ini, indeks dolar DXY, data inflasi AS, CPI Amerika Serikat, PPI Amerika Serikat, Federal Reserve, nilai tukar dolar, yen Jepang, euro terhadap dolar, pasar forex global, berita ekonomi Amerika, kebijakan suku bunga The Fed, sentimen pasar global, safe haven dolar AS.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...