Langsung ke konten utama

 

Harga Emas Turun, Level US$4.000 per Troy Ounce Menjadi Benteng Kuat Investor


Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin (29 Juni) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan aksi saling serang. Membaiknya prospek geopolitik di Timur Tengah mendorong sebagian investor mengurangi kepemilikan aset safe haven, sehingga memberikan tekanan terhadap harga logam mulia.

Meskipun mengalami penurunan cukup tajam, harga emas tetap mampu bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce. Kemampuan mempertahankan area tersebut menunjukkan bahwa minat beli masih cukup kuat dan menjadikan level tersebut sebagai zona dukungan (support) penting bagi pergerakan emas dalam jangka pendek.

Kesepakatan AS-Iran Meredakan Permintaan Safe Haven

Tekanan terhadap harga emas muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian serangan sebagai langkah awal untuk meredakan konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kesepakatan tersebut tercapai setelah rangkaian aksi balasan militer di Timur Tengah kembali menguji rapuhnya gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga mengumumkan bahwa pembicaraan damai dengan Iran dijadwalkan kembali berlangsung di Doha, Qatar. Harapan terhadap keberlanjutan proses diplomasi membuat pelaku pasar mulai mengurangi permintaan terhadap aset yang selama ini dianggap sebagai tempat berlindung ketika ketidakpastian meningkat.

Akibat sentimen tersebut, harga emas sempat merosot hingga 2,2% dan mendekati level US$4.000 per troy ounce, sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan perdagangan.

Harga Emas Turun Lebih dari 23% Sejak Konflik Dimulai

Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga emas telah mengalami koreksi lebih dari 23%. Bahkan pada pekan sebelumnya, logam mulia ini sempat diperdagangkan di bawah level US$4.000 per troy ounce, menandai perubahan signifikan dibandingkan tren penguatan yang sempat terjadi sebelumnya.

Salah satu faktor utama yang membebani harga emas adalah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dan gas meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global sehingga mendorong ekspektasi bahwa bank-bank sentral, terutama Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kondisi suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga maupun dividen. Investor pun lebih tertarik mengalokasikan dana ke aset yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi.

Level US$4.000 Menjadi Area Support yang Kuat

Walaupun tekanan jual masih mendominasi, kemampuan harga emas bertahan di atas US$4.000 per troy ounce menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. Level tersebut kini dipandang sebagai area support utama yang masih dipertahankan oleh investor jangka panjang.

Analis menilai keberadaan pembeli di sekitar level tersebut menunjukkan bahwa permintaan fisik maupun investasi terhadap emas belum sepenuhnya menghilang. Banyak investor memanfaatkan penurunan harga sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi, terutama dengan mempertimbangkan masih tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Selain itu, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa emas menjadi lebih tahan terhadap gejolak geopolitik di Timur Tengah. Setelah sebagian besar kenaikan harga sepanjang tahun ini terkoreksi, banyak investor jangka pendek memilih keluar dari pasar sehingga tekanan spekulatif mulai berkurang.

Fokus Investor Beralih ke Inflasi dan Kebijakan The Fed

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor kini beralih pada data inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Kedua faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan harga emas dalam beberapa bulan mendatang.

Apabila inflasi tetap tinggi, bank sentral Amerika Serikat berpotensi mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama dari perkiraan. Sebaliknya, jika tekanan inflasi mulai mereda, peluang penurunan suku bunga akan semakin terbuka sehingga dapat kembali meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Dengan demikian, pasar emas saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, tetapi juga oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter global yang akan menentukan arah arus investasi.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Pada pukul 16.34 waktu New York, harga spot gold tercatat turun 1,8% ke level US$4.016,97 per troy ounce. Meski berada di zona negatif, harga tersebut masih bertahan di atas level psikologis US$4.000 yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak melemah sekitar 1,5% menjadi US$58,29 per troy ounce, sementara platinum juga mengalami penurunan. Berbeda dengan kedua logam tersebut, palladium justru berhasil mencatatkan kenaikan pada perdagangan yang sama.

Sementara itu, Bloomberg Dollar Index bergerak relatif stabil karena investor masih menunggu rilis data inflasi terbaru Amerika Serikat serta sinyal lanjutan dari Federal Reserve mengenai prospek suku bunga.

Prospek Harga Emas Masih Dipenuhi Ketidakpastian

Pergerakan harga emas dalam waktu dekat diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan geopolitik, kondisi inflasi global, dan kebijakan suku bunga bank sentral. Selama level US$4.000 per troy ounce mampu dipertahankan, peluang terjadinya pemulihan harga masih terbuka.

Namun, apabila tekanan dari tingginya suku bunga dan membaiknya sentimen geopolitik terus berlanjut, harga emas berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, investor akan terus mencermati setiap perkembangan ekonomi maupun politik global yang dapat memengaruhi arah pergerakan logam mulia sebagai salah satu aset safe haven utama di pasar keuangan internasional.

Source: newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...