Langsung ke konten utama

Harga Minyak Bangkit Usai Serangan Dekat Selat Hormuz, Kekhawatiran Pasokan Global Kembali Meningkat


Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (26/6) setelah sebelumnya menghapus sebagian besar kenaikan yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Penguatan terbaru terjadi menyusul laporan adanya serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran investor mengenai keamanan jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Perubahan sentimen pasar berlangsung sangat cepat. Optimisme bahwa pasokan minyak global mulai pulih sempat menekan harga pada awal perdagangan. Namun, insiden keamanan terbaru di sekitar Selat Hormuz membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik yang dapat mengganggu kelancaran distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk Persia.

Optimisme Pemulihan Pasokan Sempat Tekan Harga Minyak

Pada awal sesi perdagangan, harga minyak bergerak melemah karena pasar menilai kondisi pasokan global mulai menunjukkan perbaikan. Optimisme tersebut muncul setelah sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan selama berbulan-bulan di Teluk Persia mulai kembali melintasi Selat Hormuz.

Perkembangan ini membuat investor beranggapan bahwa premi risiko perang yang sebelumnya melekat pada harga minyak mulai berkurang. Dengan kembali terbukanya jalur pelayaran utama tersebut, distribusi minyak diperkirakan akan kembali normal sehingga mampu meningkatkan pasokan ke pasar internasional.

Harapan terhadap pemulihan arus logistik energi sempat menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga minyak pada awal perdagangan.

Lebih dari 35 Juta Barel Minyak Mulai Keluar dari Teluk Persia

Berdasarkan data perusahaan pelacak perdagangan komoditas Kpler, lebih dari 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak mentah telah berhasil melintasi Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Kapal-kapal non-Iran tersebut sebelumnya terjebak di kawasan Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan setelah Teheran secara efektif menutup akses Selat Hormuz pada awal konflik.

Sebagian besar muatan minyak tersebut diperkirakan akan tiba di berbagai negara Asia pada awal Agustus, sehingga diharapkan dapat membantu memperbaiki keseimbangan pasokan energi global.

Pulihnya aktivitas pengiriman ini menjadi sinyal positif bagi pasar karena menunjukkan bahwa distribusi minyak mulai kembali berjalan setelah sempat mengalami gangguan cukup panjang.

Citi Prediksi Harga Brent Berpotensi Turun dalam Jangka Menengah

Lembaga keuangan global Citi menilai tekanan terburuk terhadap strategi perdagangan komoditas berbasis kurva harga (curve-based commodity trading strategy) kemungkinan telah berlalu.

Selama konflik Amerika Serikat dan Iran berlangsung, lonjakan harga minyak jangka pendek sempat memberikan tekanan besar terhadap strategi investasi yang menjual kontrak jangka dekat dan membeli kontrak jangka panjang.

Dengan menjadikan skenario deeskalasi sebagai proyeksi utama, Citi memperkirakan harga minyak Brent berpotensi bergerak turun menuju kisaran US$60 hingga US$65 per barel dalam enam hingga dua belas bulan ke depan apabila arus pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal dan tidak terjadi gangguan baru.

Proyeksi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa normalisasi pasokan dapat mengurangi premi risiko yang selama ini menopang harga minyak.

Serangan Kapal Kargo Ubah Sentimen Pasar Secara Drastis

Optimisme pasar tidak bertahan lama. Sentimen berubah drastis setelah muncul laporan bahwa Iran diduga menyerang sebuah kapal kargo di dekat wilayah Oman.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyalahkan Iran atas insiden tersebut. Peristiwa ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dunia, terutama karena lokasi kejadian berada di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi global.

Meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut membuat investor kembali membeli kontrak minyak sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan.

Harga Brent dan WTI Berbalik Menguat

Setelah sempat melemah pada awal perdagangan, harga minyak akhirnya ditutup menguat.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 2% dan ditutup pada level US$71,92 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional menguat 2,1% menjadi US$75,26 per barel.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar energi masih sangat sensitif terhadap perkembangan keamanan di Timur Tengah. Meskipun pasokan mulai pulih, risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang mampu menggerakkan harga minyak dalam waktu singkat.

Iran Tegaskan Kontrol atas Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan, Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Navy) mengeluarkan pernyataan bahwa keselamatan pelayaran di Selat Hormuz hanya akan terjamin apabila kapal-kapal mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh pemerintah Iran.

Iran juga memperingatkan bahwa kapal yang melanggar instruksi pelayaran dapat menghadapi tindakan dari pihak berwenang.

Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa risiko terhadap salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia belum sepenuhnya hilang. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menilai prospek pasokan minyak global.

Prospek Harga Minyak Masih Bergantung pada Situasi Timur Tengah

Pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz.

Apabila arus pelayaran terus berjalan normal dan ketegangan antara Amerika Serikat serta Iran tidak kembali meningkat, harga minyak berpotensi melanjutkan koreksi menuju level sebelum konflik terjadi. Sebaliknya, apabila muncul serangan baru atau Iran memperketat pengawasan terhadap Selat Hormuz, premi risiko geopolitik kemungkinan akan kembali meningkat dan mendorong harga minyak Brent maupun WTI bergerak lebih tinggi.

Dengan kondisi tersebut, pasar minyak global diperkirakan akan tetap berada dalam fase volatilitas tinggi, di mana setiap perkembangan geopolitik dapat memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan dan arah harga energi dunia.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Cek! Biar Ngerti, Ini 10 Parameter Pemilihan Baterai Listrik

  Indonesia memasuki era baru industri baterai listrik. Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengumumkan pembentuk Indonesia Battery Corporation (IBC), induk usaha yang dibentuk untuk mengelola industri baterai terintegrasi dari hulu sampai ke hilir di Tanah Air. Apakah Indonesia terlambat? Pasalnya sudah 200 tahun terakhir sudah terjadi perkembangan signifikan baik dari segi riset pengembangan hingga penggunaan baterai untuk keperluan sehari-hari. Pemilihan baterai yang tepat tentu menjadi keputusan yang harus diperhatikan dengan teliti dan didasari oleh anslisis yang dalam dan menyuluruh. Pemilihan bateri tentu saja dipengaruhi oleh berbagai batasan, dari harga material hingga keamanan rantai pasokan. Berikut ini 10 parameter utama yang perlu diperhatikan dalam pemilihan baterai: 1. Spesific Energy Spesific energy adalah total muatan energi yang dapat disimpan di dalam baterai. Semakin banyak energi yang mampu disimpan, tentu ...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...