Langsung ke konten utama

Dolar AS Bergerak Stabil, Yen Menguat di Tengah Ketidakpastian Inflasi dan Konflik Selat Hormuz


Pergerakan dolar Amerika Serikat cenderung stabil pada akhir pekan seiring pelaku pasar menimbang perkembangan inflasi global, prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu serangkaian data ekonomi penting yang akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa hari ke depan.

Indeks Dolar AS (DXY) ditutup menguat tipis 0,1% ke level 100,96 pada pukul 16.35 waktu New York. Meski kenaikannya relatif terbatas, penguatan tersebut cukup membawa DXY membukukan kinerja positif secara mingguan. Pergerakan yang cenderung sempit mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar yang belum berani mengambil posisi besar sebelum memperoleh kepastian mengenai arah inflasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Di sisi lain, yen Jepang tampil sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terbaik setelah muncul laporan bahwa pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan kebijakan untuk mendorong Government Pension Investment Fund (GPIF) meningkatkan alokasi investasinya ke aset domestik. Langkah tersebut dinilai berpotensi menciptakan permintaan jangka panjang yang signifikan terhadap yen karena GPIF merupakan dana pensiun terbesar di dunia dengan total aset sekitar 293,6 triliun yen atau setara sekitar US$1,81 triliun.

Prospek peningkatan investasi domestik oleh GPIF diperkirakan tidak hanya memperkuat nilai tukar yen, tetapi juga memberikan dampak terhadap pasar obligasi Jepang. Permintaan yang lebih tinggi terhadap aset dalam negeri dapat menekan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang saat ini berada di kisaran 3,4%, sekaligus memperkuat daya tarik yen sebagai salah satu aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pergerakan dolar sepanjang pekan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangkaian serangan yang terjadi di kawasan Selat Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Ancaman terhadap jalur pelayaran strategis tersebut mendorong harga minyak bertahan di level tinggi dan memunculkan spekulasi bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian utama investor karena berpotensi menghambat proses penurunan inflasi yang selama ini diharapkan pasar. Apabila harga minyak terus meningkat akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, biaya produksi dan distribusi di berbagai sektor ekonomi dapat ikut terdorong naik. Kondisi tersebut berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama untuk memastikan inflasi kembali menuju target jangka panjang.

Pandangan tersebut sejalan dengan risalah rapat Federal Reserve periode 16–17 Juni yang menunjukkan masih adanya perbedaan pendapat di antara para pejabat bank sentral mengenai arah suku bunga. Beberapa anggota menilai risiko inflasi masih cukup tinggi, terutama akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta tingginya permintaan dari sektor teknologi. Meskipun pada akhirnya The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan, risalah tersebut memperlihatkan bahwa peluang perubahan kebijakan tetap terbuka apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Fokus pasar kini tertuju pada dua indikator inflasi utama Amerika Serikat yang akan dirilis dalam pekan ini. Data Consumer Price Index (CPI) periode Juni dijadwalkan terbit pada Selasa, disusul Producer Price Index (PPI) pada Rabu. Kedua data tersebut diperkirakan menjadi acuan utama bagi investor dalam menilai apakah tekanan harga masih cukup kuat untuk mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Data inflasi bulan Mei sebelumnya menunjukkan tekanan harga tahunan tertinggi sejak April 2023, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia. Namun, setelah sempat melonjak akibat konflik geopolitik, harga minyak kini kembali bergerak mendekati level sebelum eskalasi terjadi. Kondisi tersebut membuat sebagian analis memperkirakan bahwa tekanan inflasi kemungkinan telah mencapai puncaknya pada Mei, meskipun risiko kenaikan kembali masih terbuka apabila situasi di Timur Tengah terus memburuk.

Selain faktor ekonomi, perkembangan diplomasi juga menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar. Oman dan Pakistan dilaporkan terus berupaya menjadi mediator dengan mendorong Amerika Serikat dan Iran untuk tetap membuka jalur komunikasi, menahan eskalasi konflik, serta mencegah pecahnya konfrontasi berskala penuh. Harapan terhadap solusi diplomatik sedikit meredakan kepanikan pasar, meski belum cukup kuat untuk menghilangkan premi risiko yang masih membayangi aset-aset global.

Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, prospek inflasi, serta arah kebijakan moneter membuat pergerakan dolar AS dan aset safe haven lainnya diperkirakan tetap terbatas dalam jangka pendek. Investor cenderung menunggu kepastian dari data inflasi Amerika Serikat dan perkembangan konflik di Selat Hormuz sebelum menentukan posisi investasi yang lebih agresif. Selama faktor-faktor tersebut belum menunjukkan arah yang jelas, volatilitas di pasar mata uang global diperkirakan akan tetap tinggi meski pergerakan harian masih berlangsung dalam kisaran yang relatif sempit.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...