Langsung ke konten utama

Dolar AS Tertekan usai The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Mulai Ragukan Peluang Kenaikan pada September


Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Rabu (29 Juli) setelah Federal Reserve (The Fed) kembali memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, namun memunculkan keraguan baru mengenai peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September. Pelemahan dolar terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan berubahnya ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter bank sentral.

Keputusan The Fed diambil melalui hasil pemungutan suara 9 banding 3. Meskipun mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memilih mempertahankan suku bunga, tiga pejabat bank sentral, yaitu Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan, memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian, meski belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan pada pertemuan kali ini.

Walaupun terdapat tiga suara yang mendukung kebijakan lebih ketat, pelaku pasar justru mulai meragukan apakah dukungan terhadap kenaikan suku bunga akan semakin besar pada pertemuan September mendatang. Investor menilai keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi, khususnya inflasi, pasar tenaga kerja, serta tingkat konsumsi masyarakat Amerika Serikat.

Sentimen tersebut memberikan tekanan terhadap mata uang Amerika Serikat. US Dollar Index (DXY) tercatat turun sekitar 0,5% ke kisaran 100,90, mencerminkan melemahnya permintaan terhadap dolar di pasar valuta asing. Penurunan indeks dolar terjadi setelah investor mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Selain dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter, pelemahan dolar juga didorong oleh turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Ketika yield obligasi menurun, daya tarik aset berbasis dolar ikut berkurang sehingga mendorong investor melakukan rotasi ke mata uang utama lainnya maupun aset berisiko.

Penurunan dolar memberikan keuntungan bagi mata uang utama dunia. Pasangan mata uang EUR/USD menguat sekitar 0,7% hingga mencapai 1,1470, level tertinggi dalam lebih dari satu pekan. Penguatan euro didukung oleh pelemahan dolar sekaligus meningkatnya optimisme investor menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting dari kawasan Eropa.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah indikator ekonomi utama yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan euro, termasuk data pertumbuhan ekonomi, inflasi Jerman, indeks sentimen ekonomi, serta tingkat pengangguran kawasan Euro. Hasil data tersebut akan menjadi acuan bagi investor dalam menilai prospek kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, GBP/USD juga mencatat penguatan sekitar 0,5% hingga berada di kisaran 1,3360. Penguatan pound sterling terjadi menjelang keputusan kebijakan moneter Bank of England (BoE). Investor bersikap hati-hati sembari menunggu sinyal mengenai arah suku bunga Inggris di tengah tantangan inflasi yang masih membayangi perekonomian negara tersebut.

Di kawasan Asia, pasangan USD/JPY turun ke sekitar 163,50, mencerminkan pelemahan dolar terhadap yen Jepang. Meski demikian, nilai tukar tersebut masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan (BoJ) masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasangan mata uang tersebut.

Berbeda dengan euro dan pound sterling, dolar Australia belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar AS secara maksimal. AUD/USD tetap bergerak lemah di sekitar 0,6945 setelah data inflasi Australia tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Angka inflasi yang lebih rendah meningkatkan spekulasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan atau melonggarkan kebijakan moneternya, sehingga membatasi penguatan dolar Australia.

Melemahnya dolar AS turut memberikan dukungan bagi berbagai aset yang diperdagangkan menggunakan mata uang tersebut, terutama emas. Ketika nilai dolar turun, harga emas menjadi lebih murah bagi investor internasional yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan terhadap logam mulia cenderung meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan harga emas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Namun demikian, arah pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi Amerika Serikat. Investor akan mencermati laporan inflasi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, serta indikator konsumsi sebagai dasar untuk memperkirakan langkah Federal Reserve pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Apabila inflasi menunjukkan perlambatan yang lebih cepat dari perkiraan, ekspektasi terhadap penundaan atau pembatalan kenaikan suku bunga dapat semakin menguat dan berpotensi memperpanjang pelemahan dolar AS. Sebaliknya, jika data ekonomi kembali menunjukkan tekanan inflasi yang tinggi dan aktivitas ekonomi tetap kuat, peluang kenaikan suku bunga pada September dapat kembali meningkat sehingga mendorong penguatan dolar.

Secara keseluruhan, pasar valuta asing saat ini berada dalam fase yang sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan bank sentral. Pelemahan dolar AS telah membuka ruang penguatan bagi euro, pound sterling, dan emas, tetapi arah tren selanjutnya masih akan ditentukan oleh data inflasi serta sinyal kebijakan dari Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, dan Reserve Bank of Australia. Selama ketidakpastian tersebut masih berlangsung, volatilitas di pasar mata uang global diperkirakan akan tetap tinggi.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...