Langsung ke konten utama

Harga Emas Melonjak Lebih dari 1,5%, XAU/USD Dekati Level US$4.150 di Tengah Pelemahan Dolar AS


Harga emas dunia mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Rabu (23 Juli), didorong oleh meningkatnya aksi beli setelah berhasil menembus level teknikal penting. Penguatan ini membawa logam mulia ke posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir, sekaligus memperkuat optimisme bahwa tren kenaikan masih berpotensi berlanjut di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian geopolitik global.

Emas spot (XAU/USD) naik lebih dari 1,5% dan diperdagangkan di kisaran US$4.146 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat menyentuh level harian terendah di sekitar US$4.076 per troy ounce. Rebound yang kuat tersebut menunjukkan bahwa minat beli kembali meningkat setiap kali harga mengalami koreksi, mencerminkan masih solidnya permintaan terhadap aset safe haven.

Kenaikan harga emas semakin kuat setelah berhasil menembus area resistance utama yang sebelumnya menjadi penghalang pergerakan naik. Breakout tersebut memicu aksi beli lanjutan dari investor dan pelaku pasar teknikal, sehingga mendorong harga kembali melampaui level psikologis US$4.100 per troy ounce. Keberhasilan mempertahankan posisi di atas level tersebut membuka peluang bagi emas untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance berikutnya.

Sentimen positif juga datang dari melemahnya dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,07% ke level 101,12, sehingga membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi ini meningkatkan daya tarik logam mulia di pasar internasional dan mendorong arus pembelian dari berbagai wilayah.

Secara historis, pelemahan dolar memiliki hubungan yang berlawanan dengan pergerakan harga emas. Ketika nilai tukar dolar melemah, biaya pembelian emas menjadi lebih rendah bagi investor global, sehingga permintaan cenderung meningkat. Hubungan inilah yang kembali terlihat pada perdagangan kali ini dan menjadi salah satu faktor utama di balik penguatan XAU/USD.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang terus menopang harga emas. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara ancaman terhadap jalur pelayaran internasional semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberikan peringatan keras kepada Iran dengan menyatakan bahwa setiap serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan strategis akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur penting Iran, termasuk jembatan dan fasilitas pembangkit listrik. Pernyataan tersebut mempertegas meningkatnya risiko eskalasi konflik yang dapat memengaruhi pasar keuangan dan komoditas global.

Ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong lonjakan harga energi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6% hingga diperdagangkan di sekitar US$86,80 per barel. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global dapat kembali meningkat, terutama jika gangguan pasokan energi terus berlangsung dalam waktu yang lebih lama.

Meskipun emas memperoleh dukungan dari pelemahan dolar dan meningkatnya permintaan safe haven, pasar juga menghadapi faktor penahan dari sisi kebijakan moneter Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik mendekati 4,654%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga acuan dapat bertahan di level tinggi lebih lama.

Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve juga mulai terlihat. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan 29 Juli sebesar 65%, turun dari sekitar 78% pada hari sebelumnya. Penurunan probabilitas tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor mulai kembali mempertimbangkan kemungkinan kebijakan yang lebih hawkish apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi tantangan bagi harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya. Oleh karena itu, kenaikan imbal hasil Treasury dan meningkatnya ekspektasi pengetatan moneter berpotensi membatasi ruang penguatan XAU/USD, meskipun permintaan safe haven masih tetap tinggi.

Secara teknikal, selama harga emas mampu bertahan di atas area US$4.100 per troy ounce dan dolar AS tetap berada dalam tekanan, peluang untuk menguji level US$4.150 per troy ounce masih terbuka. Namun, apabila konflik di Timur Tengah mendorong harga energi naik lebih agresif hingga memicu penguatan kembali dolar AS sebagai aset safe haven serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, maka laju kenaikan emas berpotensi tertahan.

Dalam jangka pendek, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk klaim tunjangan pengangguran (Jobless Claims) dan S&P Global Flash PMI, yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi ekonomi AS. Selain itu, keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pada pekan depan diperkirakan menjadi katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan harga emas, dolar AS, serta pasar keuangan global secara keseluruhan.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...