Langsung ke konten utama

 

Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sejak Maret, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan


Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Rabu (2 Juli) setelah optimisme terhadap perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mengurangi kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Sentimen positif dari perundingan kedua negara membuat premi risiko geopolitik di pasar minyak menyusut, sehingga mendorong aksi jual pada kontrak minyak mentah.

Penurunan harga ini sekaligus membawa minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) ke level penutupan terendah dalam empat bulan terakhir. Selain perkembangan geopolitik, pasar juga mulai mempertimbangkan kemungkinan bertambahnya pasokan dari negara-negara produsen minyak OPEC+, yang diperkirakan akan kembali meningkatkan target produksi pada pertemuan mendatang.

Brent dan WTI Ditutup di Level Terendah dalam Empat Bulan

Minyak mentah Brent turun sebesar US$1,38 atau sekitar 1,89% dan ditutup pada level US$71,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 92 sen atau sekitar 1,32% menjadi US$68,58 per barel.

Penurunan tersebut menandai level penutupan terendah bagi kedua acuan minyak dunia sejak Maret. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan yang sebelumnya menjadi faktor utama penggerak harga minyak.

Diplomasi Amerika Serikat dan Iran Berikan Sentimen Positif

Salah satu faktor utama yang menekan harga minyak adalah meningkatnya optimisme terhadap hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa hubungan Washington dan Teheran berjalan dengan sangat baik serta menggambarkan pertemuan terbaru di Qatar berlangsung secara positif.

Pernyataan tersebut memperkuat harapan bahwa kedua negara mampu mempertahankan gencatan senjata sementara sekaligus melanjutkan proses negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen.

Bagi pasar energi, membaiknya hubungan kedua negara menjadi sinyal penting bahwa risiko konflik yang dapat mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah mulai berkurang.

Selat Hormuz Mulai Kembali Normal

Amerika Serikat dan Iran juga menggelar pembicaraan teknis di Doha untuk membahas kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz serta berbagai langkah menjaga stabilitas kawasan dalam jangka panjang.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik terjadi, sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya.

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan bahwa arus kapal tanker melalui Selat Hormuz mulai kembali ke tingkat sebelum konflik, meskipun tidak memberikan rincian angka secara spesifik.

Pemulihan aktivitas pelayaran tersebut semakin mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia dan menjadi salah satu alasan utama turunnya harga minyak.

Persediaan Minyak AS Turun, Namun Belum Mampu Menopang Harga

Dari sisi fundamental, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah AS turun sebanyak 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan lalu.

Level tersebut merupakan yang terendah sejak September 2018, didorong meningkatnya aktivitas kilang minyak menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.

Meskipun demikian, penurunan persediaan tersebut masih lebih kecil dibandingkan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan mencapai 4,5 juta barel. Akibatnya, data tersebut gagal memberikan dorongan berarti bagi harga minyak yang masih dibayangi sentimen pelemahan dari sisi geopolitik.

Proyeksi Harga Minyak Tahun 2026 Mulai Direvisi Turun

Tekanan tambahan terhadap harga minyak datang dari perubahan proyeksi pasar. Setelah lima bulan berturut-turut menaikkan estimasi harga minyak, para analis mulai memangkas proyeksi harga minyak untuk tahun 2026.

Revisi tersebut menjadi yang pertama sejak konflik Iran dimulai dan mencerminkan meningkatnya keyakinan bahwa risiko gangguan pasokan energi global mulai berkurang.

Kembalinya aktivitas normal di Selat Hormuz serta membaiknya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah membuat pasar menilai kemungkinan terjadinya krisis pasokan berkepanjangan semakin kecil.

Penurunan Kuartalan Terbesar Sejak Krisis Global

Performa harga minyak sepanjang kuartal kedua tahun ini juga menunjukkan pelemahan yang sangat signifikan. Minyak Brent tercatat turun sekitar US$45 per barel selama periode tersebut, menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global pada 2008.

Sementara itu, minyak WTI mengalami penurunan sekitar US$31 per barel, mencatatkan koreksi kuartalan terbesar sejak pandemi Covid-19 mengguncang pasar energi pada 2020.

Data tersebut menggambarkan perubahan besar dalam sentimen pasar, dari sebelumnya dipenuhi kekhawatiran terhadap konflik geopolitik menjadi lebih optimistis terhadap stabilitas pasokan energi global.

OPEC+ Berpotensi Menambah Produksi

Selain perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, perhatian investor juga tertuju pada agenda pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.

Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber industri, negara-negara anggota OPEC+ diperkirakan akan menyetujui tambahan kenaikan target produksi minyak mulai Agustus.

Jika keputusan tersebut benar-benar diambil, maka pasokan minyak global akan semakin meningkat. Kondisi ini berpotensi memperbesar surplus pasokan dan menjadi faktor yang dapat membatasi pemulihan harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.

Prospek Harga Minyak Masih Dibayangi Volatilitas

Secara keseluruhan, pelemahan harga minyak menunjukkan bahwa pasar semakin yakin risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai dapat dikendalikan. Membaiknya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, pulihnya arus pelayaran di Selat Hormuz, serta potensi peningkatan produksi OPEC+ menjadi kombinasi faktor yang mendorong harga minyak bergerak turun.

Meskipun demikian, volatilitas pasar masih berpotensi tinggi selama belum tercapai kesepakatan permanen antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, setiap perubahan kondisi keamanan di Selat Hormuz maupun keputusan produksi OPEC+ akan tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga minyak dunia dalam jangka pendek hingga menengah.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...