Harga Minyak Stabil, Pasar Pantau Perdamaian AS-Iran dan Pemulihan Pasokan Selat Hormuz
Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (3 Juli), meskipun mencatat kenaikan tipis di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar menilai keberhasilan diplomasi kedua negara berpotensi menjaga kelancaran pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.
Minyak mentah Brent ditutup naik 25 sen atau sekitar 0,35% ke level US$72,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hanya menguat 1 sen menjadi US$68,70 per barel. Pergerakan yang terbatas ini juga dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan yang lebih sepi karena pasar Amerika Serikat ditutup lebih awal menjelang libur Hari Kemerdekaan.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, baik Brent maupun WTI sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada akhir Februari. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik setelah sebagian aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali berjalan normal.
Pasar mulai melihat tanda-tanda positif setelah beberapa jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali beroperasi menyusul kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, tingkat ketidakpastian masih tergolong tinggi. Hubungan kedua negara tetap rapuh setelah saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu, yang dipicu oleh serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo. Situasi tersebut membuat investor masih berhati-hati dalam menilai prospek pasokan energi global.
Membaiknya arus distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia mendorong negara-negara produsen untuk meningkatkan produksi. Kuwait dilaporkan menaikkan produksi minyak secara signifikan menjadi sekitar 1,65 juta barel per hari pada Juni, dibandingkan sekitar 580 ribu barel per hari pada Mei. Langkah ini menunjukkan kesiapan produsen kawasan Teluk untuk memanfaatkan normalisasi jalur ekspor dan memenuhi permintaan pasar internasional.
Di saat yang sama, sedikitnya lima kapal tanker berukuran sangat besar (supertanker) yang mengangkut sekitar 10 juta barel minyak dari Arab Saudi telah berhasil melewati Selat Hormuz. Selain itu, Saudi Aramco dilaporkan mulai mengalihkan sebagian strategi penjualannya dari kontrak jangka panjang ke mekanisme harga spot guna mempercepat distribusi minyak ke pasar Asia, yang masih menjadi kawasan dengan permintaan energi terbesar di dunia.
Bertambahnya pasokan minyak telah mengubah struktur pasar dari backwardation menjadi contango. Dalam kondisi contango, harga kontrak minyak jangka pendek berada di bawah harga kontrak jangka panjang. Perubahan struktur ini umumnya mencerminkan keyakinan bahwa risiko kekurangan pasokan dalam waktu dekat mulai mereda, sehingga tekanan kenaikan harga minyak menjadi lebih terbatas.
Sinyal tersebut semakin diperkuat setelah selisih harga kontrak Brent bulan terdekat dengan kontrak enam bulan ke depan berubah menjadi negatif pada 1 Juli, untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai memperkirakan pasokan minyak global akan semakin membaik seiring pulihnya arus ekspor dari kawasan Teluk Persia.
Meskipun demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi berbagai tantangan, sementara keamanan pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi isu yang sangat sensitif. Apabila perundingan mengalami kegagalan atau kembali terjadi serangan terhadap kapal-kapal niaga, premi risiko dapat kembali meningkat dan mendorong lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.
Secara keseluruhan, harga minyak saat ini masih bertahan di kisaran sebelum konflik bersenjata meningkat. Jika pemulihan arus pengiriman melalui Selat Hormuz terus berlanjut dan produksi negara-negara Teluk semakin meningkat, tekanan dari sisi pasokan berpotensi membatasi kenaikan harga minyak. Namun, arah pergerakan minyak ke depan akan tetap sangat bergantung pada perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran, kebijakan produksi negara-negara produsen utama, serta prospek permintaan energi dari Asia, khususnya China sebagai salah satu konsumen minyak terbesar di dunia.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar