Langsung ke konten utama

Bitcoin Turun di Bawah US$80.000, Warsh Redam Risk-On dan Pasar Kripto Mulai Mendingin


Harga Bitcoin kembali turun di bawah US$80.000 pada perdagangan Jumat (28/8) setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat masih berkomitmen membawa inflasi kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut mendorong kenaikan yield Treasury jangka pendek dan mengurangi sebagian momentum risk-on yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong reli aset kripto.

Bitcoin sempat merosot hampir 4% ke sekitar US$76.871 sebelum bergerak lebih stabil. Secara mingguan, pergerakannya relatif datar setelah pada pekan sebelumnya melonjak sekitar 23%. Koreksi terbaru belum menghapus pemulihan besar Bitcoin dari area US$62.000, tetapi harga masih berada sekitar 40% di bawah rekor tertinggi sekitar US$126.000 yang dicapai pada Oktober lalu.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar kripto kembali sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Ketika investor mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi atau kebijakan moneter yang lebih ketat, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung menghadapi tekanan karena daya tarik instrumen berpendapatan tetap meningkat.

Pernyataan Warsh Tekan Sentimen Risk-On

Nada yang disampaikan Warsh dalam pidatonya dinilai sedikit lebih hawkish. Ia menilai kondisi finansial saat ini belum cukup restriktif untuk memastikan inflasi bergerak turun secara meyakinkan menuju target The Fed.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena ekspektasi terhadap arah suku bunga merupakan salah satu faktor penting yang menentukan aliran modal ke aset berisiko. Bitcoin dan aset kripto lainnya cenderung mendapatkan dukungan ketika likuiditas global melonggar dan investor bersedia mengambil risiko lebih besar.

Sebaliknya, ketika yield Treasury meningkat dan ekspektasi suku bunga menjadi lebih tinggi, investor dapat mengurangi eksposur terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi. Modal kemudian berpotensi dialihkan menuju instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih stabil.

Namun, tekanan terhadap Bitcoin sejauh ini belum berkembang menjadi aksi jual besar. Pelaku pasar menilai pidato Warsh masih berada dalam kisaran ekspektasi sehingga belum cukup untuk mengubah sepenuhnya pandangan terhadap prospek aset kripto.

Bitcoin Masih Jauh di Bawah Rekor Tertinggi

Meski mengalami koreksi, Bitcoin masih menunjukkan pemulihan yang cukup besar dari level sekitar US$62.000. Penurunan terbaru karena itu lebih terlihat sebagai fase konsolidasi setelah reli cepat daripada sinyal pasti bahwa tren pemulihan telah berakhir.

Bitcoin masih berada sekitar 40% di bawah rekor tertinggi sekitar US$126.000 yang dicapai pada Oktober lalu. Jarak tersebut menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya kembali ke kondisi bullish seperti saat Bitcoin berada di dekat level tertinggi sepanjang masa.

Reli sekitar 23% pada pekan sebelumnya juga membuat sebagian investor memiliki alasan untuk melakukan aksi ambil untung. Setelah harga naik dalam waktu singkat, koreksi menjadi bagian yang wajar dari proses pembentukan kembali keseimbangan antara pembeli dan penjual.

Tekanan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan Bitcoin mempertahankan area support penting. Jika pembeli mampu menyerap tekanan jual dan harga kembali menembus US$80.000, momentum pemulihan berpotensi kembali terbentuk.

Open Interest Futures Masih Relatif Rendah

Pasar derivatif memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi sentimen investor. Posisi leverage Bitcoin belum sepenuhnya pulih setelah gelombang likuidasi posisi bearish pada pekan sebelumnya.

Open interest Bitcoin futures yang masih relatif rendah menunjukkan bahwa pelaku pasar belum kembali membangun posisi agresif. Kondisi tersebut dapat diartikan sebagai tanda kehati-hatian karena trader masih menunggu katalis yang lebih kuat sebelum meningkatkan penggunaan leverage.

Open interest yang rendah juga dapat mengurangi risiko terjadinya akumulasi posisi spekulatif secara berlebihan dalam jangka pendek. Namun, pada saat yang sama, kondisi tersebut menunjukkan bahwa conviction pasar belum cukup kuat untuk mendorong Bitcoin memasuki tren kenaikan baru secara konsisten.

Investor kini kemungkinan akan mencermati apakah open interest mulai meningkat bersamaan dengan kenaikan harga. Jika hal tersebut terjadi dengan struktur posisi yang sehat, pemulihan dapat memperoleh dukungan tambahan. Sebaliknya, kenaikan leverage yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko likuidasi apabila harga bergerak berlawanan.

50-Week Moving Average Jadi Level Penting

Dari perspektif teknikal, perhatian trader kini tertuju pada 50-week moving average. Indikator tersebut menjadi salah satu level penting untuk menilai apakah pemulihan Bitcoin masih memiliki struktur yang sehat.

Galaxy Digital mencatat bahwa dalam sebagian besar siklus bear market sebelumnya, kemampuan Bitcoin untuk kembali menembus dan bertahan di atas indikator tersebut kerap menjadi sinyal bahwa titik terendah pasar telah terbentuk.

Karena itu, penutupan mingguan menjadi sangat penting. Selama Bitcoin mampu mempertahankan posisi di atas 50-week moving average, struktur pemulihan masih dapat dipandang relatif positif.

Sebaliknya, jika Bitcoin gagal mempertahankan indikator tersebut dan tekanan jual semakin kuat, risiko koreksi yang lebih dalam dapat meningkat. Trader kemudian akan mulai mencari level support berikutnya untuk menentukan apakah penurunan hanya bersifat sementara atau merupakan perubahan tren yang lebih serius.

Opsi Bitcoin Senilai US$6,4 Miliar Berpotensi Picu Volatilitas

Volatilitas pasar juga berpotensi meningkat karena sekitar US$6,4 miliar opsi Bitcoin memasuki masa kedaluwarsa. Kedaluwarsa kontrak opsi dalam jumlah besar dapat meningkatkan aktivitas perdagangan karena pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi, melakukan hedging, atau memindahkan eksposur ke kontrak baru.

Situasi tersebut dapat membuat pergerakan Bitcoin menjadi lebih cepat dan tajam, terutama ketika harga berada di sekitar level teknikal penting. Trader perlu memperhatikan perubahan volume dan posisi derivatif karena pergerakan harga tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental.

Meski demikian, keberadaan opsi dalam jumlah besar juga memberikan gambaran mengenai ekspektasi pelaku pasar. Minat terhadap call option pada area US$85.000 hingga US$90.000 menunjukkan bahwa sebagian trader masih mempertahankan pandangan bullish untuk jangka menengah.

Hal tersebut menjadi indikasi bahwa koreksi terbaru belum sepenuhnya mengubah sentimen pasar menjadi bearish.

US$80.000 Menjadi Level Psikologis Bitcoin

Level US$80.000 kini menjadi salah satu area yang penting bagi pergerakan Bitcoin. Penembusan kembali ke atas level tersebut dapat memberikan sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda dan pembeli kembali mengambil kendali.

Jika Bitcoin mampu merebut dan mempertahankan US$80.000, perhatian trader berpotensi bergeser menuju US$85.000. Area tersebut menjadi target berikutnya yang dapat diuji apabila momentum bullish kembali terbentuk.

Sebaliknya, kegagalan untuk kembali menembus US$80.000 dapat membuat Bitcoin lebih lama berada dalam fase konsolidasi. Tekanan tambahan di bawah level support teknikal juga dapat membuka risiko koreksi yang lebih dalam.

Karena itu, pergerakan di sekitar US$80.000 kemungkinan menjadi salah satu penentu penting bagi arah Bitcoin dalam jangka pendek.

Bitcoin Masih Sensitif terhadap Kebijakan The Fed

Pergerakan Bitcoin saat ini memperlihatkan kembali kuatnya hubungan antara aset kripto dan kondisi likuiditas global. Pernyataan hawkish dari pejabat The Fed dapat mendorong yield Treasury naik, memperkuat dolar, dan pada akhirnya mengurangi selera investor terhadap aset berisiko.

Namun, Bitcoin memiliki faktor internal yang juga perlu diperhatikan, terutama kondisi pasar derivatif, arus modal, aktivitas investor, dan struktur teknikal.

Koreksi hampir 4% setelah reli sekitar 23% pada pekan sebelumnya belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren pemulihan telah berakhir. Justru, penurunan tersebut dapat menjadi fase pendinginan setelah kenaikan yang berlangsung sangat cepat.

Selama struktur mingguan tetap terjaga dan Bitcoin mampu bertahan di atas 50-week moving average, peluang pemulihan masih terbuka. Sebaliknya, hilangnya support penting dapat mengubah sentimen dan meningkatkan risiko penurunan lebih lanjut.

Prospek Bitcoin: US$80.000 Jadi Kunci Pemulihan

Harga Bitcoin hari ini masih dibayangi efek pidato Kevin Warsh yang mengurangi sebagian momentum risk-on. Kenaikan yield Treasury dan meningkatnya perhatian terhadap inflasi AS membuat investor kembali berhati-hati dalam mengambil risiko.

Meski demikian, koreksi terbaru lebih terlihat sebagai pendinginan setelah reli cepat, bukan pembalikan tren besar. Open interest futures yang masih relatif rendah juga menunjukkan bahwa investor belum kembali menggunakan leverage secara agresif.

Dalam jangka pendek, US$80.000 menjadi level kunci. Jika Bitcoin berhasil merebut kembali level tersebut, target US$85.000 berpotensi terbuka dan minat bullish dapat kembali meningkat. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan struktur mingguan, terutama jika disertai penembusan support 50-week moving average, dapat meningkatkan risiko koreksi lebih dalam.

Dengan nilai opsi yang mencapai sekitar US$6,4 miliar dan sentimen moneter AS yang masih berubah-ubah, volatilitas Bitcoin diperkirakan tetap tinggi. Arah berikutnya akan sangat bergantung pada kombinasi antara kebijakan The Fed, pergerakan yield Treasury, kekuatan dolar, serta kemampuan Bitcoin mempertahankan level teknikal penting.

Sumber: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...