Langsung ke konten utama

 Dolar AS Tertekan, Data CPI Jadi Penentu Arah Kebijakan The Fed dan Harga Emas


Indeks Dolar AS (DXY)
masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya. DXY bergerak di sekitar level 99,6 seiring pasar mencerna data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari perkiraan.

Melemahnya pasar tenaga kerja AS kembali mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Investor kini mengalihkan perhatian ke data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini karena indikator tersebut berpotensi menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS selanjutnya.

Data Tenaga Kerja AS Tekan Dolar

Tekanan terhadap dolar AS semakin kuat setelah data Nonfarm Payrolls (NFP) Juli menunjukkan penurunan tidak terduga sebesar 23.000 pekerjaan. Perkembangan tersebut menjadi sinyal penting bahwa momentum pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai kehilangan kekuatan.

Tidak hanya laporan Juli, data ketenagakerjaan untuk dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun yang cukup signifikan. Revisi tersebut memperkuat persepsi bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS tidak sekuat yang sebelumnya diperkirakan.

Bagi pasar keuangan, perlambatan pasar tenaga kerja memiliki implikasi langsung terhadap kebijakan The Fed. Jika penciptaan lapangan kerja melemah secara berkelanjutan, tekanan terhadap bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat dapat berkurang.

Kondisi tersebut kemudian berdampak pada imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga melemah, yield obligasi cenderung turun dan daya tarik aset berbasis dolar ikut berkurang. Aliran dana tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang AS.

Peluang Kenaikan Suku Bunga September Menurun

Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed terlihat cukup jelas. Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September hanya sekitar 44%, turun dari sekitar 67% pada pekan sebelumnya.

Penurunan probabilitas tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam persepsi investor. Sebelumnya, kekuatan pasar tenaga kerja dan ketahanan ekonomi AS memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap hawkish. Namun, data pekerjaan terbaru mulai mengubah kalkulasi tersebut.

Jika data ekonomi berikutnya kembali menunjukkan perlambatan, investor kemungkinan semakin yakin bahwa The Fed tidak memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga. Skenario tersebut berpotensi membuat tekanan terhadap dolar AS berlanjut.

CPI AS Menjadi Fokus Utama Pasar

Setelah data tenaga kerja, perhatian investor kini beralih ke Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting yang digunakan pasar untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed.

Apabila CPI menunjukkan bahwa tekanan harga terus mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga pada September berpotensi semakin turun. Dalam kondisi tersebut, yield obligasi AS dapat kembali mengalami tekanan dan dolar berpotensi melanjutkan pelemahannya.

Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat atau berada di atas ekspektasi pasar, situasinya dapat berubah dengan cepat. Inflasi yang lebih tinggi akan memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau bahkan kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Skenario tersebut dapat meningkatkan yield Treasury dan mendorong permintaan terhadap dolar AS. Karena itu, CPI menjadi katalis penting yang dapat menentukan apakah tekanan terhadap dolar akan berlanjut atau justru berbalik arah.

Level 100 DXY Jadi Batas Psikologis

Pergerakan DXY di sekitar level 99,6 juga membuat angka 100 menjadi perhatian utama pelaku pasar. Level tersebut merupakan ambang psikologis penting yang dapat memengaruhi sentimen perdagangan dolar AS.

Apabila DXY mampu kembali menembus dan bertahan di atas 100, momentum pemulihan dolar berpotensi menguat. Namun, jika indeks terus bergerak di bawah level tersebut, tekanan jual dapat semakin besar dan membuka ruang bagi pelemahan lanjutan.

Arah DXY dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi data inflasi, ekspektasi suku bunga The Fed, serta pergerakan yield obligasi AS.

Ketegangan Timur Tengah Masih Menjadi Risiko

Selain faktor ekonomi domestik AS, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi arah dolar. Iran kembali menyatakan tidak melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat dan masih menuntut sejumlah persyaratan sebelum kesepakatan dapat tercapai.

Iran menuntut pencabutan blokade laut, penghapusan sanksi serta kompensasi atas kerugian akibat perang. Sikap tersebut menunjukkan bahwa proses diplomasi masih menghadapi ketidakpastian.

Jika ketegangan di Timur Tengah meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dapat kembali muncul. Kondisi tersebut berpotensi membatasi pelemahan dolar meskipun ekspektasi kebijakan The Fed cenderung lebih dovish.

Sebaliknya, apabila ketegangan geopolitik mereda bersamaan dengan pelemahan inflasi AS, tekanan terhadap dolar dapat semakin kuat.

Dolar Melemah, Emas Berpeluang Menguat

Pergerakan dolar AS menjadi salah satu faktor penting bagi harga emas dunia. Pelemahan dolar biasanya meningkatkan daya tarik emas bagi investor yang memegang mata uang lain karena harga emas menjadi relatif lebih murah.

Jika CPI AS berada di bawah ekspektasi dan pasar semakin yakin bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga, kombinasi pelemahan dolar dan penurunan yield obligasi berpotensi memberikan dukungan kuat terhadap emas.

Sebaliknya, CPI yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Jika hal tersebut mendorong penguatan dolar dan kenaikan yield, emas berpotensi menghadapi tekanan karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih tinggi.

Prospek Dolar AS Pekan Ini

Untuk sementara, dolar AS masih berada dalam tekanan karena pasar tidak melihat adanya kebutuhan mendesak bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Data NFP yang melemah telah mengubah ekspektasi pasar secara signifikan, sementara CPI menjadi ujian berikutnya bagi prospek kebijakan moneter AS.

Level 100 pada DXY akan menjadi batas psikologis yang penting. Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, dolar berpotensi kembali melemah dan memberikan ruang penguatan bagi emas. Namun, apabila inflasi kembali meningkat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat muncul kembali dan mendorong dolar AS menguat.

Dengan demikian, data CPI AS menjadi katalis utama pasar pada pekan ini. Investor akan mencermati bukan hanya angka inflasi aktual, tetapi juga bagaimana data tersebut mengubah ekspektasi terhadap keputusan The Fed, pergerakan yield Treasury, DXY, serta harga emas dan aset berisiko lainnya.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...