Langsung ke konten utama

Harga Emas Anjlok, Yield Obligasi dan Lonjakan Harga Minyak Tekan XAU/USD


Harga emas dunia mengalami tekanan kuat pada perdagangan Selasa, 18 Agustus, setelah lonjakan imbal hasil obligasi global dan kenaikan harga energi kembali mengurangi daya tarik logam mulia. Harga emas spot turun sekitar 1,1% menjadi US$4.364,90 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup melemah 1,2% ke US$4.420,60 per troy ounce.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa emas kembali menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi. Kenaikan yield obligasi jangka panjang di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman membuat aset berbunga menjadi semakin menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan pendapatan bunga.

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Kebuntuan diplomasi AS-Iran, sikap militer Iran yang semakin agresif, serta keputusan Teheran mempertahankan penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Yield Obligasi Global Jadi Beban Utama Harga Emas

Faktor terbesar yang menekan harga emas berasal dari kenaikan yield obligasi jangka panjang di sejumlah negara utama. Yield Treasury AS, obligasi pemerintah Jepang, dan obligasi Jerman mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.

Kenaikan yield menjadi tantangan serius bagi emas karena logam mulia tidak menghasilkan bunga atau kupon. Ketika investor dapat memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari obligasi dengan risiko yang relatif terukur, biaya peluang untuk mempertahankan posisi emas menjadi semakin besar.

Kondisi tersebut mendorong sebagian investor mengurangi kepemilikan emas dan mengalihkan dana ke aset berbasis pendapatan tetap. Tekanan ini terutama terasa ketika kenaikan yield terjadi secara bersamaan di beberapa pasar obligasi utama dunia.

Bagi harga XAU/USD, arah yield Treasury AS akan tetap menjadi salah satu indikator terpenting. Selama yield terus meningkat, ruang emas untuk menguat kemungkinan tetap terbatas.

Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Kembali Meningkat

Selain yield, kenaikan harga minyak dunia turut memberikan tekanan terhadap emas. Harga minyak menguat untuk sesi ketiga berturut-turut di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Kebuntuan pembicaraan damai, sikap Iran yang semakin ofensif, serta keputusan mempertahankan penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian utama karena minyak memiliki dampak luas terhadap tingkat inflasi. Jika harga bahan bakar dan energi meningkat secara berkelanjutan, tekanan harga terhadap barang dan jasa lainnya dapat ikut meningkat.

Situasi tersebut membuat pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan bahwa suku bunga harus dipertahankan pada level tinggi lebih lama. Bahkan, tidak sepenuhnya tertutup kemungkinan bank sentral harus kembali memperketat kebijakan apabila inflasi mengalami akselerasi.

Ekspektasi Suku Bunga Kembali Menjadi Fokus

Sebelumnya, sejumlah data ekonomi AS telah memberikan sinyal bahwa perekonomian mulai kehilangan momentum. Pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, inflasi relatif lebih terkendali, dan data penjualan ritel Juli juga memberikan gambaran permintaan konsumen yang tidak terlalu kuat.

Data tersebut sempat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi seperti ini biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena penurunan suku bunga akan mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa bunga.

Namun, kenaikan harga energi mengubah sebagian persepsi tersebut. Jika harga minyak terus meningkat, investor harus kembali mempertimbangkan risiko inflasi yang lebih tinggi.

Dengan demikian, pasar kini berada dalam posisi yang lebih kompleks. Pelemahan ekonomi dapat mendukung ekspektasi pelonggaran suku bunga, tetapi kenaikan harga energi dapat membuat The Fed lebih berhati-hati.

Koreksi Emas Belum Menghapus Prospek Jangka Menengah

Meskipun harga emas mengalami penurunan tajam, sebagian analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas dalam jangka menengah.

Emas tetap memiliki sejumlah faktor fundamental yang mendukung, termasuk ketidakpastian geopolitik, diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral, serta permintaan investasi ketika risiko ekonomi dan keuangan meningkat.

Namun, untuk mencapai level yang jauh lebih tinggi, emas membutuhkan peningkatan permintaan investor yang signifikan. Bank of America menilai bahwa minat investor perlu meningkat secara substansial agar harga emas memiliki peluang menuju US$5.000 per troy ounce.

Artinya, kenaikan menuju level tersebut tidak hanya bergantung pada kondisi geopolitik. Arus dana ke produk investasi berbasis emas dan meningkatnya permintaan investor menjadi faktor penting untuk memastikan reli dapat berlanjut.

Perak, Platinum, dan Palladium Ikut Tertekan

Tekanan jual tidak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan palladium juga mengalami penurunan tajam.

Koreksi secara luas pada pasar logam menunjukkan bahwa tekanan saat ini lebih berkaitan dengan faktor makroekonomi daripada persoalan spesifik pada emas. Kenaikan yield dan penguatan daya tarik aset berbunga dapat memberikan tekanan terhadap berbagai aset logam mulia.

Pergerakan tersebut juga mencerminkan aksi pengurangan risiko di pasar komoditas. Ketika investor menghadapi ketidakpastian mengenai suku bunga, inflasi, dan harga energi, posisi pada aset yang telah mengalami kenaikan besar sebelumnya cenderung menjadi sasaran aksi ambil untung.

Level US$4.350 Menjadi Area Penting Harga Emas

Secara teknikal, level US$4.350 per troy ounce menjadi area penting untuk diperhatikan setelah harga emas spot turun ke US$4.364,90.

Jika tekanan jual berlanjut dan harga berhasil menembus ke bawah US$4.350, emas berpotensi melanjutkan koreksi menuju area US$4.320 hingga US$4.300 per troy ounce.

Penembusan area tersebut akan menunjukkan bahwa tekanan jual semakin kuat dan dapat mendorong investor melakukan penyesuaian posisi lebih lanjut. Sebaliknya, jika harga mampu bertahan di atas US$4.350, area tersebut berpotensi menjadi fondasi bagi upaya pemulihan.

Pergerakan harga di sekitar level ini menjadi penting karena akan memberikan gambaran mengenai apakah koreksi saat ini hanya merupakan aksi ambil untung sementara atau awal dari penurunan yang lebih dalam.

Peluang Rebound Terbuka Jika Yield Mulai Turun

Skenario positif bagi emas akan muncul apabila yield obligasi mulai mengalami penurunan. Penurunan yield dapat mengurangi biaya peluang memegang emas dan meningkatkan kembali daya tarik logam mulia.

Jika pembeli kembali memasuki pasar dan harga mampu menembus US$4.400 per troy ounce, emas berpotensi melanjutkan pemulihan menuju area US$4.420–US$4.450.

Kembalinya harga di atas US$4.400 juga akan menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Namun, penguatan yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari faktor fundamental, terutama perubahan ekspektasi suku bunga dan pelemahan yield Treasury AS.

FOMC Minutes Jadi Katalis Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Dokumen tersebut akan menjadi salah satu sumber informasi penting bagi investor untuk memahami pandangan para pejabat The Fed mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, dan arah suku bunga.

Jika risalah menunjukkan sikap hawkish, yield obligasi AS berpotensi kembali meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap emas. Sebaliknya, apabila nada komunikasi lebih dovish dan memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga, yield dapat turun dan memberikan ruang bagi emas untuk melakukan pemulihan.

Reaksi pasar terhadap FOMC minutes akan sangat menentukan momentum XAU/USD dalam perdagangan berikutnya.

Prospek Harga Emas Masih Bergantung pada Yield dan Inflasi

Secara keseluruhan, koreksi harga emas saat ini merupakan hasil kombinasi kenaikan yield obligasi global, lonjakan harga minyak, serta meningkatnya kembali kekhawatiran inflasi.

Dalam jangka pendek, emas masih menghadapi tekanan apabila yield tetap tinggi dan harga energi terus meningkat. Risiko penurunan menuju US$4.320–US$4.300 akan semakin besar apabila US$4.350 berhasil ditembus secara meyakinkan.

Namun, prospek bullish jangka menengah belum sepenuhnya berubah. Jika yield mulai turun, tekanan inflasi mereda, dan investor kembali meningkatkan permintaan terhadap emas, XAU/USD berpeluang menembus US$4.400 dan menguji area US$4.420–US$4.450.

Dengan demikian, arah harga emas berikutnya akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara risiko inflasi dan ekspektasi suku bunga Federal Reserve. FOMC minutes menjadi katalis penting yang dapat menentukan apakah koreksi emas berlanjut atau justru membuka jalan bagi pemulihan menuju level yang lebih tinggi.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...