Langsung ke konten utama

 

Harga Emas Melonjak 4%, Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi Anjlok Dorong Reli Terbesar Sejak Februari


Harga emas dunia mencatat lonjakan spektakuler pada perdagangan Rabu (5 Agustus) setelah melemah tajamnya dolar Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS memicu gelombang pembelian aset safe haven. Reli ini menjadi kenaikan harian terbesar sejak Februari dan kembali mengukuhkan emas sebagai salah satu instrumen investasi yang paling diminati di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Berdasarkan pembaruan pasar terbaru, harga emas spot melonjak 4,4% menjadi US$4.253,36 per troy ounce setelah sempat menyentuh level US$4.264,93, yang merupakan posisi tertinggi sejak 18 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember ditutup naik 3,7% ke level US$4.305,20 per troy ounce.

Lonjakan tajam tersebut dipicu kombinasi berbagai faktor fundamental, mulai dari pelemahan dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi, melambatnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat, hingga meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Pelemahan Dolar AS Menjadi Pendorong Utama Kenaikan Emas

Salah satu faktor terbesar yang mendukung penguatan harga emas adalah melemahnya Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) yang turun mendekati level terendah dalam enam pekan.

Ketika dolar melemah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan global terhadap logam mulia sehingga mendorong harga bergerak lebih tinggi.

Selain itu, pelemahan dolar juga mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap prospek kebijakan moneter Federal Reserve setelah sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Selama dolar tetap berada dalam tren melemah, emas berpotensi mempertahankan daya tariknya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Imbal Hasil Obligasi Turun, Opportunity Cost Emas Semakin Rendah

Selain faktor nilai tukar dolar, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memberikan dorongan kuat bagi pasar emas.

Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun ke level terendah dalam satu pekan setelah investor meningkatkan pembelian obligasi menyusul melemahnya data ekonomi.

Turunnya yield obligasi membuat biaya peluang (opportunity cost) untuk memiliki emas menjadi lebih rendah. Berbeda dengan obligasi yang memberikan bunga, emas tidak menghasilkan imbal hasil sehingga biasanya kurang menarik ketika suku bunga dan yield berada pada level tinggi.

Namun ketika imbal hasil turun, investor cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke emas karena selisih keuntungan antara kedua instrumen tersebut menjadi semakin kecil.

Data ADP Memperkuat Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi

Sentimen positif bagi emas semakin menguat setelah laporan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan bahwa perusahaan swasta di Amerika Serikat hanya menambah sekitar 44.000 tenaga kerja selama Juli.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan revisi data Juni sebesar 95.000 pekerjaan sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar.

Perlambatan perekrutan tenaga kerja memperkuat indikasi bahwa aktivitas ekonomi Amerika mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

Data tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat, sehingga memberikan tambahan dukungan bagi harga emas.

Sikap Hawkish The Fed Masih Menjadi Risiko

Meskipun emas memperoleh sentimen positif dari melemahnya data ekonomi, ancaman dari kebijakan moneter yang lebih ketat belum sepenuhnya hilang.

Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeff Schmid, menilai bahwa kebijakan moneter saat ini masih belum cukup ketat untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.

Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook yang menegaskan kesiapannya mendukung kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak segera menunjukkan penurunan yang meyakinkan.

Komentar bernada hawkish tersebut menjadi pengingat bahwa Federal Reserve masih membuka peluang untuk kembali memperketat kebijakan apabila tekanan harga tetap tinggi.

Apabila ekspektasi kenaikan suku bunga kembali meningkat, penguatan harga emas berpotensi menghadapi hambatan karena kenaikan yield obligasi dan dolar biasanya mengurangi daya tarik logam mulia.

Perkembangan Selat Hormuz Kurangi Kekhawatiran Inflasi Energi

Di sisi geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kemajuan negosiasi tersebut membantu menekan harga minyak dunia karena muncul harapan distribusi energi global dapat kembali berjalan lebih lancar. Penurunan harga energi turut mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi yang berasal dari sektor minyak dan gas.

Meskipun demikian, proses negosiasi masih belum mencapai kesepakatan final. Berbagai isu penting seperti mekanisme pengawasan kapal, proses inspeksi, hingga besaran biaya transit masih menjadi pembahasan yang belum terselesaikan.

Ketidakpastian tersebut membuat risiko geopolitik masih tetap membayangi pasar global.

Bagi emas, kondisi ini menciptakan keseimbangan yang unik. Di satu sisi, turunnya harga energi membantu meredakan tekanan inflasi. Namun di sisi lain, ketidakpastian geopolitik tetap mempertahankan permintaan terhadap aset safe haven.

Analisis Teknikal: Momentum Bullish Semakin Menguat

Dari sudut pandang teknikal, harga emas menunjukkan sinyal bullish yang semakin kuat setelah berhasil menembus level psikologis US$4.200 per troy ounce.

Selain itu, emas juga berhasil bergerak di atas rata-rata pergerakan (50-day Moving Average) yang berada di sekitar US$4.160. Penembusan area tersebut memperkuat indikasi bahwa tren kenaikan masih memiliki ruang untuk berlanjut.

Level resistensi terdekat saat ini berada di kisaran US$4.265, diikuti area psikologis US$4.300 yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Apabila harga mampu menembus dan bertahan di atas US$4.300, momentum bullish berpotensi berlanjut menuju kisaran US$4.330 hingga US$4.350 per troy ounce.

Risiko Koreksi Masih Perlu Diwaspadai

Meskipun tren utama masih mengarah naik, investor tetap perlu mewaspadai kemungkinan aksi ambil untung (profit taking) setelah reli yang sangat tajam.

Apabila tekanan jual meningkat, harga emas berpotensi kembali menguji area support di sekitar US$4.200.

Jika level tersebut tidak mampu dipertahankan, koreksi dapat berlanjut menuju area US$4.160 yang kini menjadi zona teknikal penting sebagai penopang tren kenaikan.

Selama harga tetap bergerak di atas area tersebut, prospek bullish jangka menengah diperkirakan masih tetap terjaga.

Laporan Non-Farm Payrolls Menjadi Penentu Arah Berikutnya

Perhatian pasar kini tertuju pada laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi katalis utama pergerakan emas dalam jangka pendek.

Apabila data NFP kembali menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve akan semakin menurun. Skenario tersebut berpotensi memperpanjang reli emas karena didukung pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi.

Sebaliknya, apabila laporan NFP mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang kuat disertai kenaikan upah yang tinggi, peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mengangkat kembali nilai dolar dan imbal hasil Treasury sehingga membatasi bahkan membalikkan penguatan harga emas.

Dengan kombinasi faktor fundamental yang masih dinamis, pasar emas diperkirakan tetap bergerak volatil dalam beberapa hari ke depan. Arah tren selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kekuatan data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan kebijakan moneter Federal Reserve yang terus menjadi acuan utama bagi investor global.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...