Langsung ke konten utama

Harga Emas Menanti Kejelasan Selat Hormuz, XAU/USD Bergerak Konsolidasi di Tengah Sikap Hati-Hati Investor


Harga emas dunia bergerak terbatas pada perdagangan sesi Asia, Selasa (4 Agustus), seiring pelaku pasar menunggu kepastian mengenai perkembangan diplomatik terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Logam mulia masih bertahan di dekat level psikologis penting setelah mencatat kenaikan tipis pada sesi sebelumnya, sementara investor juga terus mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang akan menjadi penentu pergerakan harga emas dalam beberapa pekan mendatang.

Emas spot diperdagangkan di kisaran US$4.052,81 per troy ounce, setelah menguat sekitar 0,2% pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan yang relatif sempit mencerminkan sikap wait and see para investor di tengah ketidakpastian geopolitik serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Selat Hormuz Menjadi Fokus Utama Pergerakan Harga Emas

Perhatian pasar saat ini tertuju pada pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Normalisasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut diperkirakan akan meningkatkan kelancaran distribusi minyak dan gas alam, sehingga mampu menekan harga energi global.

Jika pasokan energi kembali stabil, tekanan inflasi berpotensi mereda. Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), mengingat salah satu faktor utama yang menopang kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir adalah tingginya risiko inflasi akibat gangguan pasokan energi.

Sebaliknya, apabila proses diplomasi mengalami hambatan atau konflik kembali meningkat, permintaan terhadap emas berpotensi kembali menguat karena investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Trump Beri Ultimatum kepada Iran, Teheran Tetap Membantah Negosiasi Langsung

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut upaya diplomatik terbaru sebagai kesempatan terakhir bagi Iran untuk menyelesaikan ketegangan melalui jalur perundingan. Pernyataan tersebut memberikan harapan bahwa konflik dapat diredakan tanpa eskalasi militer yang lebih luas.

Namun demikian, pemerintah Iran kembali menegaskan bahwa tidak ada negosiasi langsung dengan Washington. Teheran hanya mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan bersama Oman mengenai pembentukan jalur pelayaran yang aman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Perbedaan pernyataan antara kedua pihak menciptakan ketidakpastian baru bagi pasar keuangan. Investor masih menunggu konfirmasi mengenai arah diplomasi sebelum mengambil posisi yang lebih agresif pada aset berisiko maupun aset lindung nilai seperti emas.

Kebijakan The Fed Masih Menjadi Faktor Penentu

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menilai bahwa tingkat suku bunga saat ini masih berada pada level yang tepat mengingat inflasi diperkirakan akan terus melambat pada paruh kedua tahun ini.

Sebelumnya, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75%. Meski demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat karena terdapat tiga pejabat bank sentral yang menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Pernyataan Williams memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum terburu-buru mengubah kebijakan moneternya. Sikap tersebut membantu menjaga stabilitas pasar obligasi dan membatasi pergerakan dolar AS, dua faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika harga emas.

Apabila inflasi benar-benar melambat sesuai proyeksi, peluang penurunan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang akan semakin terbuka. Skenario tersebut umumnya menjadi katalis positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Citi Research Proyeksikan Emas Menguat pada Kuartal Keempat

Lembaga riset Citi Research memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak mendatar atau bahkan mengalami pelemahan terbatas dalam satu bulan ke depan. Konsolidasi ini dipandang sebagai fase penyesuaian pasar sambil menunggu kepastian mengenai konflik geopolitik dan arah kebijakan bank sentral.

Meski demikian, Citi tetap mempertahankan pandangan optimistis untuk jangka menengah. Harga emas diproyeksikan berpotensi naik menuju US$4.500 per troy ounce pada kuartal keempat apabila sejumlah faktor pendukung mulai terbentuk.

Prospek tersebut didasarkan pada kemungkinan meredanya konflik geopolitik, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta penurunan suku bunga riil (real interest rates). Kombinasi ketiga faktor tersebut secara historis menjadi lingkungan yang sangat kondusif bagi kenaikan harga logam mulia.

Analisis Pergerakan Harga Emas

Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan masih bergerak dalam pola konsolidasi karena belum terdapat katalis yang cukup kuat untuk mendorong pergerakan satu arah. Investor cenderung menunggu hasil nyata dari proses diplomasi di Timur Tengah sekaligus mencari petunjuk lebih lanjut mengenai langkah Federal Reserve pada pertemuan berikutnya.

Level US$4.050 per troy ounce kini menjadi area penting yang menentukan arah pergerakan emas. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji area resistensi di kisaran US$4.080 hingga US$4.100 masih terbuka.

Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat dan harga menembus ke bawah US$4.050, maka area US$4.020 hingga US$4.000 diperkirakan menjadi zona penyangga berikutnya. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka peluang koreksi yang lebih dalam sebelum tren kenaikan kembali terbentuk.

Kesimpulan

Harga emas dunia masih berada dalam fase konsolidasi seiring pelaku pasar menunggu kepastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Ketidakjelasan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran membuat permintaan terhadap aset safe haven tetap terjaga, meskipun belum cukup kuat untuk mendorong reli baru.

Di sisi lain, prospek inflasi yang mulai mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang masih menjadi faktor pendukung bagi emas dalam jangka menengah. Selama ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan bank sentral belum sepenuhnya terjawab, harga emas diperkirakan akan tetap bergerak dalam rentang terbatas dengan level US$4.050 per troy ounce sebagai titik acuan utama bagi pelaku pasar.

Source: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...