Langsung ke konten utama

 

Imbal Hasil Obligasi AS Naik Lagi, Yen Jepang Kembali Tertekan dan USD/JPY Mendekati Level 160


Nilai tukar yen Jepang kembali melemah terhadap dolar AS
setelah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan baru terhadap greenback. Pasangan mata uang USD/JPY mengakhiri perdagangan Kamis (20 Agustus) dengan menguat sekitar 0,6% ke level 159,12. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap yen kembali meningkat setelah sebelumnya sempat mendapatkan dukungan dari pelemahan imbal hasil Treasury AS.

Kenaikan USD/JPY terjadi ketika investor kembali menjual obligasi pemerintah AS sehingga mendorong imbal hasil Treasury lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dibandingkan aset yen, terutama karena selisih imbal hasil antara Amerika Serikat dan Jepang masih relatif lebar.

Pergerakan pasar juga menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah AS untuk memperluas program pembelian kembali obligasi jangka panjang belum mampu memberikan dampak berkelanjutan terhadap imbal hasil Treasury. Setelah sempat menekan yield dan dolar AS, sentimen tersebut dengan cepat berbalik ketika investor kembali melakukan aksi jual di pasar obligasi.

Yield Treasury AS Kembali Menjadi Penggerak Utama USD/JPY

Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan rencana untuk menggandakan nilai buyback obligasi Treasury berjangka 10 hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Kebijakan tersebut sempat memberikan respons positif di pasar obligasi karena investor menilai pembelian kembali surat utang dapat membantu meningkatkan likuiditas dan mengurangi tekanan pada pasar Treasury jangka panjang.

Penurunan yield yang terjadi setelah pengumuman tersebut sempat memberikan tekanan terhadap dolar AS. Secara teoritis, imbal hasil obligasi yang lebih rendah akan mengurangi daya tarik aset dalam denominasi dolar, terutama jika ekspektasi suku bunga AS juga bergerak turun.

Namun, dampak tersebut tidak bertahan lama. Investor kembali melepas obligasi AS sehingga imbal hasil bergerak naik lagi. Kondisi ini menjadi katalis bagi dolar AS dan mendorong USD/JPY kembali mendekati level 160.

Kenaikan yield Treasury memiliki implikasi besar terhadap pasar valuta asing karena perbedaan imbal hasil antara AS dan Jepang merupakan salah satu faktor fundamental utama yang menentukan arah USD/JPY. Selama imbal hasil aset AS tetap jauh lebih tinggi dibandingkan Jepang, investor masih memiliki insentif untuk mempertahankan eksposur terhadap dolar.

Prospek Kebijakan The Fed Menjadi Perhatian Investor

Selain pergerakan Treasury, prospek kebijakan Federal Reserve juga memberikan dukungan terhadap dolar AS. Risalah pertemuan FOMC Juli menunjukkan bahwa sebagian pejabat The Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, sementara sejumlah anggota menilai pengetatan tambahan dapat diperlukan apabila inflasi tidak bergerak menuju target 2%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang dari perhitungan pasar. Meskipun investor tidak lagi mengantisipasi pengetatan moneter secara agresif seperti sebelumnya, kemungkinan kenaikan suku bunga tetap menjadi faktor yang dapat menjaga daya tarik dolar.

Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 35%, sementara peluang tersebut meningkat menjadi sekitar 67% pada Desember. Perbedaan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa investor masih melihat kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Bagi USD/JPY, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi di Amerika Serikat cenderung menjadi faktor positif. Sebaliknya, apabila data inflasi dan pasar tenaga kerja AS melemah secara signifikan, ekspektasi penurunan suku bunga dapat kembali menguat dan berpotensi memberikan tekanan terhadap dolar.

Yen Melemah, Risiko Intervensi Jepang Meningkat

Penguatan USD/JPY menuju level 160 kembali meningkatkan perhatian terhadap risiko intervensi pemerintah Jepang. Level tersebut memiliki arti penting karena pelemahan yen yang terlalu cepat dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga domestik dan biaya impor Jepang.

Sebelumnya, pemerintah Jepang dan Amerika Serikat disebut telah melakukan intervensi bersama pada 31 Juli setelah yen mencapai level terlemah dalam hampir empat dekade. Pengalaman tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap komentar pejabat Jepang ketika yen kembali mendekati level psikologis 160 per dolar.

Semakin tinggi USD/JPY bergerak, semakin besar pula kemungkinan investor memperhitungkan respons dari otoritas Jepang. Bahkan tanpa intervensi aktual, pernyataan bernada tegas dari Kementerian Keuangan Jepang atau pejabat Bank of Japan dapat memengaruhi posisi spekulatif dan membatasi kenaikan pasangan mata uang tersebut.

Risiko intervensi menjadi salah satu faktor yang membedakan kondisi USD/JPY saat ini dengan periode ketika dolar menguat tanpa adanya ancaman kebijakan langsung dari Tokyo. Investor harus memperhitungkan bahwa kenaikan yield Treasury memang memberikan dukungan fundamental terhadap dolar, tetapi apresiasi USD/JPY yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko intervensi.

Selisih Suku Bunga AS-Jepang Tetap Menjadi Faktor Kunci

Secara fundamental, arah USD/JPY masih sangat dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan. Selama The Fed mempertahankan suku bunga relatif tinggi sementara BoJ bergerak lebih hati-hati dalam melakukan normalisasi, dolar memiliki keunggulan imbal hasil terhadap yen.

Kondisi tersebut mendorong strategi carry trade, yaitu investor memanfaatkan perbedaan suku bunga dengan meminjam mata uang berimbal hasil rendah seperti yen untuk kemudian membeli aset dengan imbal hasil lebih tinggi dalam dolar.

Namun, carry trade dapat berubah dengan cepat apabila ekspektasi kebijakan moneter berubah. Jika pasar mulai memperkirakan penurunan suku bunga AS lebih agresif atau kenaikan suku bunga BoJ lebih cepat, daya tarik strategi tersebut dapat berkurang. Akibatnya, investor berpotensi menutup posisi yang sebelumnya mendukung dolar dan melakukan pembelian kembali yen.

USD/JPY Menghadapi Batas Psikologis 160

Secara teknikal dan psikologis, level 160 menjadi area penting bagi USD/JPY. Kenaikan menuju level tersebut dapat memperkuat momentum dolar apabila mampu ditembus secara berkelanjutan. Namun, area ini juga berpotensi menjadi zona dengan tekanan jual yang lebih besar karena meningkatnya kekhawatiran terhadap intervensi Jepang.

Jika yield Treasury AS kembali meningkat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat, USD/JPY berpeluang menguji kembali level 160. Sebaliknya, apabila yield mulai turun atau pejabat Jepang mengeluarkan peringatan keras mengenai pelemahan yen, pasangan mata uang tersebut dapat menghadapi tekanan koreksi.

Dengan demikian, kenaikan imbal hasil obligasi AS kembali menjadi katalis utama pelemahan yen, tetapi ruang penguatan USD/JPY tidak sepenuhnya bebas. Investor kini harus mempertimbangkan tiga faktor utama secara bersamaan, yakni arah yield Treasury, prospek kebijakan The Fed, dan kemungkinan intervensi Jepang.

Selama yield AS tetap tinggi, dolar masih memiliki dukungan fundamental untuk bergerak lebih kuat terhadap yen. Namun, semakin dekat USD/JPY dengan level 160, semakin besar pula risiko intervensi dan aksi ambil untung yang dapat membatasi kenaikan pasangan tersebut. Pergerakan USD/JPY selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah kenaikan yield AS mampu bertahan atau kembali berbalik turun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...