Langsung ke konten utama

Bitcoin Dekati Puncak Agustus, Level US$82.000 Jadi Penentu Arah Berikutnya


Harga Bitcoin kembali melonjak tajam pada perdagangan Kamis (3/9), memperkuat pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan hingga berada di bawah US$77.000. Bitcoin menguat sekitar 5% ke kisaran US$81.300, sekaligus mendekati kembali level tertinggi Agustus di sekitar US$82.000.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset berisiko mulai pulih. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury menjadi katalis utama yang mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk cryptocurrency. Sentimen tersebut semakin kuat setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja.

Pelemahan Pasar Tenaga Kerja AS Dukung Bitcoin

Salah satu faktor yang menopang reli Bitcoin adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.

Data ADP yang lebih lemah dari perkiraan, ditambah kenaikan klaim pengangguran AS menjadi 206.000, memperkuat indikasi bahwa perusahaan mulai lebih berhati-hati dalam perekrutan tenaga kerja.

Perkembangan tersebut penting bagi pasar kripto karena kondisi pasar tenaga kerja memiliki hubungan erat dengan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Jika perlambatan ekonomi semakin jelas, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan atau melonggarkan kebijakan moneter dapat meningkat.

Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang lebih lunak juga membantu memperbaiki sentimen. Peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi sekitar 54%, sehingga pasar mulai mengurangi sebagian posisi yang sebelumnya mengantisipasi kebijakan moneter lebih ketat.

Dolar AS dan Yield Treasury Menjadi Katalis

Pelemahan dolar AS menjadi faktor penting lainnya bagi kenaikan Bitcoin. Ketika dolar melemah, aset berisiko yang diperdagangkan secara global cenderung mendapatkan dukungan karena kondisi likuiditas menjadi relatif lebih longgar.

Penurunan yield Treasury juga membantu memperbaiki daya tarik aset berisiko. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah dapat mengurangi insentif investor untuk menempatkan dana pada instrumen pendapatan tetap dan mendorong sebagian modal mencari peluang dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Bitcoin menjadi salah satu aset yang sensitif terhadap perubahan likuiditas dan ekspektasi suku bunga. Karena itu, setiap perubahan signifikan pada ekspektasi kebijakan The Fed dapat memicu pergerakan harga Bitcoin dalam waktu singkat.

Jika dolar dan yield Treasury terus bergerak turun, lingkungan makroekonomi tersebut berpotensi menjadi katalis tambahan bagi Bitcoin untuk menguji kembali level tertinggi Agustus.

NFP AS Jadi Katalis Utama

Setelah data ADP dan klaim pengangguran memberikan sinyal perlambatan, perhatian pasar kini beralih kepada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat.

Data NFP akan menjadi salah satu indikator terpenting untuk menentukan arah Bitcoin dan pasar kripto dalam jangka pendek. Pasar akan menilai apakah perlambatan yang terlihat pada indikator ketenagakerjaan sebelumnya benar-benar mulai tercermin dalam penciptaan lapangan kerja.

Jika NFP lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi kembali menurun. Dolar AS dan yield Treasury dapat mengalami tekanan lebih lanjut, menciptakan kondisi yang mendukung Bitcoin.

Sebaliknya, NFP yang jauh lebih kuat dari perkiraan dapat mengubah sentimen dengan cepat. Data pekerjaan yang solid akan menunjukkan bahwa ekonomi AS masih memiliki ketahanan dan berpotensi memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat.

Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dolar dan kenaikan yield, sehingga Bitcoin berisiko mengalami aksi ambil untung setelah reli hampir 5% dalam satu sesi.

Regulasi AS dan Pembelian Strategy Tetap Menjadi Pendukung

Selain faktor makroekonomi, perkembangan industri aset digital juga memberikan fondasi positif bagi Bitcoin. Harapan terhadap kemajuan regulasi cryptocurrency di Amerika Serikat tetap menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset digital.

Dukungan dari pelaku institusional juga masih terlihat. Strategy sebelumnya membeli 4.603 Bitcoin, sehingga total kepemilikannya meningkat menjadi sekitar 845.050 Bitcoin.

Pembelian dalam jumlah besar oleh perusahaan tersebut menjadi sinyal bahwa strategi akumulasi Bitcoin masih berlangsung meskipun harga cryptocurrency menghadapi volatilitas tinggi. Aktivitas pembelian institusional juga dapat memperkuat persepsi bahwa permintaan jangka panjang terhadap Bitcoin tetap ada.

Namun, faktor tersebut belum cukup untuk menghilangkan sepenuhnya risiko dari kondisi makroekonomi global. Bitcoin masih sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas, suku bunga, dan sentimen risiko.

Konflik AS-Iran Menjadi Risiko bagi Bitcoin

Di tengah pemulihan Bitcoin, konflik AS–Iran tetap menjadi sumber ketidakpastian. Eskalasi geopolitik yang mendorong harga minyak lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi global.

Kenaikan harga energi berpotensi memperburuk inflasi Amerika Serikat. Jika tekanan harga kembali meningkat, The Fed dapat mengambil sikap yang lebih hawkish dan mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter.

Kondisi tersebut dapat menjadi hambatan bagi Bitcoin karena kenaikan suku bunga dan yield biasanya memberikan tekanan terhadap aset spekulatif.

Selain risiko dari Timur Tengah, pasar juga mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Kebijakan moneter Jepang yang lebih ketat berpotensi mengurangi likuiditas global dan mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk cryptocurrency.

Altcoin Ikut Menguat

Penguatan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Mayoritas cryptocurrency utama juga mencatat kenaikan pada perdagangan yang sama.

Ether diperdagangkan sekitar US$2.509, sementara XRP berada di US$1,45, Solana US$104,36, BNB US$724, Cardano US$0,220, dan Dogecoin US$0,0886.

XRP, Cardano, dan Dogecoin bahkan mencatat kenaikan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif mulai menyebar ke pasar altcoin, bukan hanya terkonsentrasi pada aset kripto dengan kapitalisasi terbesar.

Jika Bitcoin berhasil mempertahankan momentum dan menembus resistance penting, penguatan tersebut berpotensi meningkatkan selera investor terhadap altcoin. Namun, apabila Bitcoin mengalami koreksi tajam, altcoin biasanya memiliki risiko penurunan yang lebih besar karena volatilitasnya relatif tinggi.

Analisis Harga Bitcoin: US$80.000 Jadi Level Kunci

Secara teknikal, level US$80.000 menjadi area penting bagi Bitcoin setelah harga berhasil kembali berada di atasnya. Kemampuan Bitcoin mempertahankan level psikologis tersebut akan menjadi indikator awal apakah reli saat ini memiliki kekuatan untuk berlanjut.

Analisa Newsmaker: sentimen jangka pendek Bitcoin kembali bullish selama harga mampu bertahan di atas US$80.000. Jika Bitcoin berhasil menembus dan mempertahankan level US$82.000, yang merupakan area puncak Agustus, momentum bullish berpotensi semakin kuat.

Penembusan US$82.000 dapat membuka ruang bagi Bitcoin untuk bergerak menuju US$84.000–US$85.000. Area tersebut menjadi target berikutnya apabila arus beli tetap kuat dan kondisi makroekonomi mendukung aset berisiko.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan US$80.000 akan menjadi sinyal bahwa reli mulai kehilangan tenaga. Bitcoin berpotensi kembali menguji area US$78.000 hingga US$77.000, terutama apabila NFP AS menunjukkan data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan dan kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Prospek Bitcoin Bergantung pada The Fed dan NFP

Bitcoin memasuki perdagangan berikutnya dengan momentum yang lebih positif setelah berhasil bangkit menuju US$81.300. Pelemahan dolar AS, penurunan yield Treasury, perlambatan pasar tenaga kerja, serta ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih lunak menjadi kombinasi faktor yang mendukung pemulihan cryptocurrency.

Namun, reli tersebut masih menghadapi sejumlah risiko. NFP AS menjadi katalis terdekat yang dapat menentukan apakah Bitcoin mampu menembus US$82.000 atau justru kembali terkoreksi.

Data tenaga kerja yang lemah berpotensi memperpanjang tekanan terhadap dolar dan yield Treasury sekaligus memperkuat peluang Bitcoin melanjutkan kenaikan. Sebaliknya, NFP yang kuat dapat menghidupkan kembali taruhan kenaikan suku bunga dan menekan aset kripto.

Untuk jangka pendek, US$80.000 menjadi support psikologis utama, sementara US$82.000 merupakan resistance penting. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$80.000, peluang menuju US$84.000–US$85.000 tetap terbuka. Namun, penurunan kembali di bawah US$80.000 dapat meningkatkan risiko koreksi menuju US$78.000–US$77.000.

Sumber: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...