Langsung ke konten utama

Bitcoin Kembali Bangkit, Pasar Pantau Resistance US$90 Ribu


Pasar aset kripto kembali menguat pada perdagangan Senin (21/9), dengan Bitcoin (BTC) menjadi salah satu aset digital yang paling diperhatikan investor. Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$86.000 dan mempertahankan momentum penguatan sejak pertengahan September, sementara pasar mulai memantau area US$88.000 hingga US$90.000 sebagai zona resistance penting.

Pemulihan Bitcoin berlangsung di tengah kondisi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat. Federal Reserve (The Fed) sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai bagian dari upaya menjaga inflasi tetap bergerak menuju target 2%. Kenaikan suku bunga biasanya memberikan tantangan bagi aset berisiko seperti kripto karena meningkatkan daya tarik instrumen yang menawarkan imbal hasil.

Namun, respons Bitcoin menunjukkan bahwa sebagian tekanan dari kebijakan tersebut telah diperhitungkan oleh pasar. Investor mulai mengalihkan perhatian kepada prospek inflasi, arah kebijakan moneter berikutnya, serta kemungkinan perubahan kondisi likuiditas global yang dapat memengaruhi minat terhadap aset digital.

Bitcoin Bertahan di Sekitar US$86.000

Bitcoin saat ini bergerak di sekitar level US$86.000 setelah mengalami pemulihan dari tekanan sebelumnya. Pergerakan tersebut membuat perhatian pasar tertuju pada kemampuan BTC untuk mempertahankan momentum kenaikan dan menguji resistance berikutnya.

Zona US$88.000–US$90.000 menjadi area penting karena keberhasilan menembus resistance tersebut akan menjadi perkembangan teknikal yang diperhatikan pelaku pasar. Sebaliknya, apabila Bitcoin gagal mempertahankan momentum dan kembali mengalami tekanan jual, investor akan memantau apakah harga mampu bertahan di atas area support terdekat.

Pergerakan Bitcoin tetap sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Selain faktor teknikal, arah dolar AS, imbal hasil obligasi, ekspektasi suku bunga The Fed, serta arus dana ke aset berisiko dapat memengaruhi volatilitas BTC.

Karena itu, penguatan Bitcoin tidak hanya mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset digital, tetapi juga perubahan persepsi investor terhadap risiko makroekonomi dan kebijakan moneter.

Dampak Kebijakan The Fed terhadap Aset Kripto

Kebijakan Federal Reserve tetap menjadi salah satu faktor makroekonomi utama yang diperhatikan pasar kripto. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti Bitcoin.

Ketika suku bunga naik, investor memiliki lebih banyak alternatif untuk menempatkan dana pada instrumen dengan tingkat imbal hasil yang relatif menarik. Kondisi tersebut dapat mengurangi minat terhadap aset berisiko, terutama ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.

Namun, pengaruh kebijakan moneter tidak selalu berlangsung secara langsung. Pasar keuangan biasanya bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap kebijakan di masa depan. Jika kenaikan suku bunga telah diperkirakan sebelumnya, sebagian dampaknya dapat tercermin dalam harga sebelum keputusan resmi diumumkan.

Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa Bitcoin tetap mampu mempertahankan momentum meskipun The Fed masih menerapkan kebijakan moneter ketat. Investor kini mulai memperhatikan apakah tekanan inflasi dapat terus mereda dan bagaimana kondisi tersebut akan memengaruhi arah kebijakan bank sentral pada pertemuan berikutnya.

Sentimen Investor Kripto Mulai Membaik

Perbaikan harga Bitcoin juga tercermin dalam perubahan sentimen pasar. Crypto Fear & Greed Index berada di sekitar 70 atau kategori Greed, meningkat dari sekitar 57 pada pekan sebelumnya.

Kenaikan indeks tersebut menunjukkan adanya perubahan persepsi investor terhadap kondisi pasar kripto. Sentimen yang sebelumnya lebih berhati-hati mulai bergeser ke arah optimisme, seiring dengan pemulihan harga sejumlah aset digital utama.

Meski demikian, indikator sentimen tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menentukan arah harga. Kondisi pasar kripto tetap dapat berubah dengan cepat apabila terjadi perubahan pada faktor makroekonomi, regulasi, likuiditas, atau arus modal.

Sentimen yang semakin positif juga dapat meningkatkan aktivitas perdagangan, tetapi pada saat yang sama membuat pasar lebih sensitif terhadap aksi ambil untung apabila harga gagal menembus resistance penting.

Ethereum, XRP, dan Solana Ikut Mendapat Perhatian

Pemulihan Bitcoin juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap sejumlah aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) tetap menjadi bagian penting dari pasar karena jaringan tersebut menjadi salah satu infrastruktur utama untuk smart contract dan aplikasi berbasis blockchain.

Ethereum memiliki ekosistem yang luas, termasuk decentralized finance (DeFi), stablecoin, dan berbagai aplikasi terdesentralisasi. Oleh karena itu, pergerakan ETH tidak hanya dipengaruhi sentimen pasar secara umum, tetapi juga perkembangan aktivitas dan penggunaan jaringan Ethereum.

Sementara itu, XRP kembali mendapat perhatian seiring perkembangan sektor pembayaran berbasis aset digital. Posisi XRP dalam ekosistem pembayaran membuat pergerakannya sering dikaitkan dengan perkembangan penggunaan teknologi blockchain untuk transfer nilai.

Solana (SOL) juga menjadi salah satu aset yang dipantau investor karena pertumbuhan aktivitas jaringan dan perkembangan ekosistem aplikasinya. Peningkatan penggunaan jaringan dapat menjadi salah satu faktor fundamental yang diperhatikan di luar pergerakan harga jangka pendek.

Pergerakan ketiga aset tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sentimen pasar tidak hanya terpusat pada Bitcoin. Ketika Bitcoin memperoleh momentum, perubahan sentimen juga dapat menyebar ke aset kripto dengan kapitalisasi besar lainnya.

Resistance US$88.000–US$90.000 Jadi Area Penting

Dari perspektif pergerakan harga, area US$88.000 hingga US$90.000 menjadi salah satu zona yang diperhatikan pasar. Bitcoin perlu menunjukkan kemampuan mempertahankan tekanan beli apabila ingin melanjutkan momentum penguatan menuju level yang lebih tinggi.

Penembusan resistance biasanya menjadi perhatian trader karena dapat mengubah struktur pergerakan harga. Namun, konfirmasi tetap diperlukan untuk membedakan penembusan yang berkelanjutan dari pergerakan sementara atau false breakout.

Sebaliknya, apabila Bitcoin kembali berada di bawah tekanan jual sebelum mencapai zona tersebut, pasar akan memperhatikan level support dan volume perdagangan untuk menilai kekuatan koreksi. Dengan volatilitas kripto yang tinggi, perubahan harga dalam waktu singkat tetap menjadi risiko yang perlu diperhitungkan.

Faktor Makro Masih Menentukan Arah Bitcoin

Meskipun sentimen terhadap aset digital membaik, Bitcoin masih berada dalam lingkungan makroekonomi yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral AS. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga, inflasi, dolar AS, dan imbal hasil obligasi dapat dengan cepat memengaruhi selera risiko investor.

Jika tekanan inflasi terus menunjukkan penurunan dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter menjadi lebih longgar, aset berisiko seperti kripto dapat memperoleh dukungan dari membaiknya kondisi likuiditas dan sentimen pasar. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih ketat dapat kembali meningkatkan tekanan terhadap Bitcoin.

Oleh karena itu, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS dan komentar pejabat The Fed sebagai katalis penting setelah keputusan suku bunga terbaru. Perubahan ekspektasi tersebut dapat menentukan apakah pemulihan Bitcoin mampu berlanjut atau menghadapi konsolidasi.

Bitcoin Memasuki Fase Penentu

Bitcoin saat ini berada dalam fase penting setelah berhasil mempertahankan momentum penguatan sejak pertengahan September. Level US$86.000 menjadi area perdagangan utama, sementara US$88.000–US$90.000 menjadi zona resistance yang akan menjadi perhatian pasar.

Membaiknya Crypto Fear & Greed Index menunjukkan bahwa sentimen investor mulai pulih. Namun, optimisme tersebut tetap perlu diimbangi dengan perkembangan fundamental dan kondisi makroekonomi karena kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi aset berisiko.

Analisis Newsmaker: Pemulihan Bitcoin mencerminkan membaiknya sentimen pasar setelah investor mulai menyesuaikan diri dengan kebijakan moneter The Fed. Area US$88.000–US$90.000 menjadi zona penting yang akan dipantau untuk melihat keberlanjutan momentum harga. Sementara itu, pergerakan Ethereum, XRP, dan Solana berpotensi tetap mengikuti perubahan sentimen pasar kripto secara keseluruhan, dengan arah selanjutnya tetap dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, likuiditas, dan perkembangan kebijakan moneter AS.

Sumber: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...