Langsung ke konten utama

Dolar Tertekan, Yen Melonjak ke Level Terkuat Sejak Februari


Dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan terhadap yen Jepang pada perdagangan terbaru. Pasangan USD/JPY merosot ke sekitar 154,43, turun 1,16% dari penutupan sebelumnya di 156,25, setelah sempat menyentuh level 154,06. Pergerakan tersebut membawa yen Jepang ke posisi terkuat sejak Februari sekaligus memperpanjang tren penguatan yen dalam beberapa sesi terakhir.

Penguatan yen terjadi ketika pasar semakin agresif memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi terhadap normalisasi kebijakan moneter Jepang semakin kuat karena inflasi masih berada di sekitar level yang dinilai konsisten dengan target bank sentral. Kondisi ini membuat investor melihat peluang bahwa BOJ belum selesai dengan siklus pengetatan kebijakan moneternya.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BOJ Tekan USD/JPY

Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan yen adalah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ. Jika bank sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga, selisih imbal hasil antara aset Jepang dan Amerika Serikat berpotensi semakin menyempit.

Perubahan tersebut dapat meningkatkan daya tarik yen bagi investor global. Selama bertahun-tahun, yen dikenal sebagai mata uang dengan biaya pendanaan relatif rendah sehingga sering digunakan untuk membiayai pembelian aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.

Namun, ketika suku bunga Jepang bergerak lebih tinggi, keuntungan dari strategi tersebut dapat berkurang. Investor pun mulai mempertimbangkan kembali posisi mereka, terutama jika ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ berlangsung bersamaan dengan meningkatnya volatilitas pasar valuta asing.

Risiko Pembalikan Carry Trade Meningkat

Penguatan yen yang berlangsung cepat juga meningkatkan perhatian terhadap risiko pembalikan strategi carry trade. Strategi ini pada dasarnya memanfaatkan perbedaan suku bunga dengan meminjam dalam mata uang berbiaya rendah seperti yen dan kemudian menginvestasikan dana tersebut pada aset dengan tingkat imbal hasil lebih tinggi.

Ketika yen melemah, strategi tersebut biasanya memberikan keuntungan tambahan karena kewajiban dalam yen menjadi relatif lebih murah. Namun, situasinya berubah ketika yen menguat secara tajam.

Investor yang sebelumnya melakukan carry trade dapat terdorong untuk menutup posisi. Proses tersebut mengharuskan mereka membeli kembali yen untuk melunasi pinjaman, sehingga menciptakan tambahan permintaan terhadap yen dan tekanan jual terhadap dolar AS.

Jika penguatan yen semakin cepat, proses deleveraging tersebut dapat memperbesar volatilitas USD/JPY. Kondisi ini menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan pasar apabila BOJ memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut.

Data Tenaga Kerja AS Belum Mampu Menyelamatkan Dolar

Sebelumnya, dolar AS sempat mendapatkan dukungan setelah laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan. Data tersebut memberikan indikasi bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih cukup solid dan sempat memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.

Namun, penguatan greenback tersebut tidak berlangsung lama. Pasar kembali mengalihkan perhatian kepada inflasi AS sebagai faktor yang lebih menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam jangka pendek.

Data ketenagakerjaan yang kuat memang dapat meningkatkan tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat. Akan tetapi, keputusan mengenai suku bunga tetap sangat bergantung pada kombinasi indikator ekonomi, terutama inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kondisi pasar tenaga kerja.

Karena itu, pelaku pasar kini menunggu data inflasi terbaru untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai peluang perubahan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve September.

CPI AS Menjadi Penentu Arah Dolar Berikutnya

Fokus utama pasar kini tertuju pada Consumer Price Index (CPI) AS. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan menentukan ekspektasi investor terhadap kebijakan Federal Reserve.

Jika inflasi AS kembali menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, peluang kebijakan moneter yang lebih ketat dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong imbal hasil Treasury AS naik dan memberikan dukungan terhadap dolar.

Dalam skenario tersebut, USD/JPY berpeluang mengalami rebound setelah penurunan tajam dalam beberapa sesi terakhir. Investor akan mencermati apakah pasangan mata uang tersebut mampu kembali menembus area 155 sebagai indikasi awal bahwa tekanan terhadap dolar mulai mereda.

Sebaliknya, apabila CPI AS menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari ekspektasi, pasar dapat mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. Pelemahan imbal hasil obligasi dan dolar AS dalam kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi yen untuk melanjutkan penguatannya.

Analisis Teknikal USD/JPY

Dari perspektif teknikal, USD/JPY saat ini menunjukkan momentum bearish setelah menembus level psikologis 155. Penurunan menuju 154,43 dan sempat menyentuh 154,06 menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap dolar masih cukup kuat.

Area 155 kini menjadi level penting untuk diperhatikan. Selama USD/JPY masih bergerak di bawah level tersebut, momentum jangka pendek cenderung berpihak pada yen. Penembusan lebih rendah dari area 154 dapat membuka ruang bagi pasangan ini untuk menguji level support berikutnya.

Sebaliknya, apabila USD/JPY mampu kembali naik dan bertahan di atas 155, tekanan jual berpotensi mulai berkurang. Rebound tersebut dapat semakin kuat apabila CPI AS menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dan mendorong pasar meningkatkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Prospek Yen Jepang dan Dolar AS

Pergerakan USD/JPY dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan BOJ dan Federal Reserve. Di Jepang, pasar akan mencermati indikasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Sementara itu, dari Amerika Serikat, investor menunggu CPI sebagai petunjuk penting mengenai arah kebijakan The Fed.

Untuk saat ini, posisi yen masih relatif kuat setelah USD/JPY menembus level psikologis 155. Ekspektasi pengetatan BOJ memberikan dukungan terhadap yen, sementara ketidakpastian mengenai kebijakan Federal Reserve membatasi ruang penguatan dolar.

Analisis Newsmaker: Dolar AS masih berada di bawah tekanan terhadap yen setelah USD/JPY menembus level 155. Selama pasangan ini bertahan di bawah area tersebut, momentum penguatan yen masih dominan. CPI AS menjadi katalis utama berikutnya. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memicu rebound dolar dan mendorong USD/JPY kembali ke atas 155, sedangkan inflasi yang lebih rendah berpotensi memperkuat yen dan membuka peluang USD/JPY menguji kembali area 154 atau bahkan bergerak lebih rendah.

Sumber: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...