Langsung ke konten utama

Treasury Buyback Kurang Nendang, Wall Street Ikut Tertekan oleh Yield dan Harga Minyak


Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9), setelah investor menghadapi tekanan dari dua faktor utama, yaitu kenaikan yield Treasury dan lonjakan harga minyak mentah. S&P 500 turun 0,36% menjadi 7.645,67, Nasdaq Composite melemah 0,55% ke 26.276,96, sementara Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,59% dan berakhir di sekitar 52.475.

Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi membuat investor semakin berhati-hati terhadap prospek inflasi serta arah kebijakan Federal Reserve. Pasar sebelumnya berharap program pembelian kembali Treasury oleh Departemen Keuangan AS dapat membantu menopang permintaan obligasi dan menekan yield. Namun, besaran buyback yang diumumkan ternyata belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor.

Treasury Buyback US$6 Miliar Belum Mampu Redam Yield

Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana membeli kembali Treasury berjangka 10 hingga 20 tahun dengan nilai hingga US$6 miliar. Secara nominal, angka tersebut tiga kali lebih besar dibandingkan operasi normal. Namun, sebagian pelaku pasar sebelumnya memperkirakan skala pembelian dapat mencapai sekitar US$8 miliar hingga US$10 miliar.

Kesenjangan antara ekspektasi dan realisasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa program buyback tidak langsung memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pasar obligasi. Investor menilai ukuran US$6 miliar masih relatif kecil dibandingkan besarnya pasar Treasury AS dan kebutuhan pemerintah untuk mengelola pasokan utang yang terus meningkat.

Setelah pengumuman tersebut, yield Treasury AS tenor 10 tahun justru melonjak hingga mendekati 4,85%, level tertinggi sejak November 2023. Kenaikan yield menunjukkan bahwa permintaan terhadap obligasi belum cukup kuat untuk mengimbangi berbagai kekhawatiran yang sedang dihadapi pasar, terutama risiko inflasi dan besarnya suplai utang pemerintah AS.

Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pasar saham. Ketika yield obligasi naik, investor mendapatkan alternatif imbal hasil yang lebih menarik tanpa harus menanggung risiko volatilitas saham. Pada saat yang sama, biaya pendanaan perusahaan ikut meningkat sehingga dapat menekan investasi, ekspansi bisnis, dan proyeksi laba.

Yield Tinggi Menekan Saham Teknologi

Kenaikan yield Treasury memberikan tekanan terbesar terhadap saham-saham yang memiliki valuasi tinggi dan sensitif terhadap perubahan suku bunga. Nasdaq Composite yang memiliki konsentrasi besar pada perusahaan teknologi melemah 0,55%, lebih dalam dibandingkan S&P 500 yang turun 0,36%.

Secara fundamental, kenaikan yield meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor untuk menilai keuntungan perusahaan pada masa mendatang. Semakin tinggi tingkat diskonto, semakin rendah nilai sekarang dari arus kas masa depan. Karena itu, saham teknologi dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi cenderung lebih sensitif ketika yield obligasi bergerak naik.

Pergerakan sejumlah saham besar mencerminkan kondisi tersebut. Apple turun sekitar 1,1%, sedangkan Alphabet kehilangan sekitar 2,4%. Pelemahan saham berkapitalisasi besar tersebut memberikan tekanan terhadap indeks utama Wall Street.

Namun, kinerja pasar tidak sepenuhnya negatif. Meta melonjak hampir 6% dan menjadi salah satu saham yang membantu membatasi penurunan indeks secara lebih dalam. Perbedaan kinerja antarperusahaan menunjukkan bahwa investor masih melakukan seleksi berdasarkan prospek pertumbuhan dan fundamental masing-masing emiten, meskipun kondisi makroekonomi secara umum semakin menantang.

Harga Minyak Tembus US$100 Per Barel

Tekanan terhadap Wall Street semakin besar setelah harga minyak Brent menembus US$100 per barel. Brent kemudian ditutup di sekitar US$101,21, setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak memberikan dampak ganda terhadap pasar keuangan. Di satu sisi, perusahaan energi mendapatkan keuntungan dari harga jual komoditas yang lebih tinggi. Namun di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar meningkatkan biaya operasional berbagai perusahaan dan berpotensi memperbesar tekanan inflasi.

Dampak positif bagi sektor energi terlihat dari kinerja S&P 500 Energy yang naik sekitar 1,2%. Sektor tersebut menjadi salah satu pengecualian ketika mayoritas sektor lain mengalami tekanan. Namun, keuntungan perusahaan energi tidak sepenuhnya mampu mengimbangi pelemahan saham teknologi, industri, dan sektor lain yang lebih sensitif terhadap biaya pendanaan serta pertumbuhan ekonomi.

Minyak Mahal Persempit Ruang Gerak The Fed

Lonjakan harga minyak menjadi semakin penting karena terjadi menjelang rilis sejumlah data inflasi Amerika Serikat. Harga energi yang tinggi dapat memperbesar tekanan terhadap inflasi konsumen apabila kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi diteruskan ke harga barang dan jasa.

Kondisi tersebut dapat memperumit tugas Federal Reserve. Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral akan memiliki alasan lebih kuat untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Artinya, harapan investor terhadap pelonggaran suku bunga dapat kembali tertunda.

Pasar kini menunggu Producer Price Index (PPI) sebagai salah satu indikator awal mengenai tekanan harga di tingkat produsen. Setelah itu, perhatian akan beralih kepada Consumer Price Index (CPI), yang akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah tekanan inflasi konsumen bergerak sesuai ekspektasi.

Jika PPI dan CPI menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan, kombinasi antara inflasi yang persisten dan harga minyak di atas US$100 dapat mendorong investor meningkatkan kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Dampaknya dapat berupa kenaikan yield Treasury dan tekanan lanjutan terhadap saham.

Wall Street Menghadapi Dua Tekanan Sekaligus

Kondisi pasar saat ini memperlihatkan bahwa Wall Street menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, yield Treasury meningkat akibat kekhawatiran mengenai inflasi, pasokan utang, dan ekspektasi kebijakan moneter. Di sisi lain, harga minyak di atas US$100 per barel menambah risiko tekanan harga di perekonomian.

Dalam situasi seperti ini, investor menjadi lebih selektif dalam mengalokasikan modal. Saham dengan valuasi tinggi dan ketergantungan besar terhadap pertumbuhan laba di masa depan cenderung menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, perusahaan dengan arus kas kuat, neraca sehat, atau eksposur terhadap sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dapat relatif lebih tahan.

Program Treasury buyback senilai US$6 miliar juga belum mampu memberikan katalis positif yang kuat bagi pasar obligasi. Ketidakmampuan operasi tersebut untuk segera menekan yield menunjukkan bahwa perhatian investor masih lebih besar terhadap faktor fundamental yang lebih luas, khususnya inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, dan prospek suku bunga.

Data Inflasi Menjadi Penentu Arah Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih sepenuhnya kepada data inflasi Amerika Serikat. PPI akan menjadi ujian awal sebelum CPI memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan tekanan harga.

Jika inflasi kembali panas, yield Treasury berpotensi melanjutkan kenaikan dan memberikan tekanan tambahan terhadap Wall Street. Level yield 10 tahun di sekitar 4,85% menjadi perhatian penting karena kenaikan lebih lanjut dapat semakin memperketat kondisi keuangan dan meningkatkan biaya modal bagi perusahaan.

Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan, tekanan terhadap pasar obligasi dapat mereda. Yield Treasury berpeluang turun dan memberikan ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan posisi pada saham, khususnya sektor teknologi dan perusahaan dengan prospek pertumbuhan tinggi.

Analisa Newsmaker: Wall Street saat ini berada dalam kondisi rentan karena kenaikan yield Treasury berlangsung bersamaan dengan lonjakan harga minyak Brent di atas US$100 per barel. Treasury buyback US$6 miliar yang berada di bawah ekspektasi sebagian investor belum mampu mengubah sentimen pasar obligasi. Selama inflasi dan harga energi masih tinggi, tekanan terhadap yield dan saham berpotensi berlanjut.

Sebaliknya, data PPI dan CPI yang lebih lunak dapat menjadi katalis pembalikan. Penurunan tekanan inflasi akan meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan moneter, mendorong yield Treasury turun, dan membuka ruang bagi rebound Wall Street. Dengan demikian, arah pasar dalam beberapa sesi mendatang sangat bergantung pada keseimbangan antara inflasi, harga minyak, yield Treasury, dan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.

Sumber: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...