Langsung ke konten utama

Yield Tembus 5%, Bitcoin dan Ethereum Kembali Melemah Jelang Keputusan The Fed


Pasar kripto kembali bergerak melemah pada sesi Eropa Selasa (15/9), ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pemungutan suara penting terkait regulasi aset digital di Amerika Serikat. Bitcoin kembali berada di bawah US$77.000 setelah sempat menguat hingga US$79.582 pada sesi yang sama.

Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$76.882, turun 0,99%. Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa perhatian pasar kripto masih sangat dipengaruhi kondisi makroekonomi, terutama pergerakan yield Treasury AS dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Kenaikan imbal hasil obligasi hingga di atas 5% membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi.

Bitcoin Tertekan di Bawah US$77.000

Pergerakan Bitcoin menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sepanjang perdagangan Selasa. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut sempat mencapai US$79.582 sebelum kembali terkoreksi ke sekitar US$76.882.

Kegagalan mempertahankan level US$79.000 menunjukkan bahwa tekanan jual masih muncul ketika Bitcoin mendekati area tersebut. Investor cenderung menunggu kepastian mengenai arah kebijakan The Fed sebelum meningkatkan posisi secara agresif.

Level US$77.000 menjadi perhatian jangka pendek karena harga yang bertahan di bawah area tersebut dapat menunjukkan masih kuatnya tekanan dari sentimen risk-off. Sebaliknya, pemulihan kembali di atas US$79.000 akan menjadi perkembangan penting bagi pasar untuk menilai apakah tekanan jual mulai mereda.

Namun, pergerakan Bitcoin tidak hanya bergantung pada faktor teknikal. Perubahan ekspektasi suku bunga AS, yield Treasury, dolar AS, dan perkembangan regulasi aset digital tetap menjadi katalis utama yang dapat memengaruhi arus modal ke pasar kripto.

Ethereum dan Altcoin Utama Ikut Melemah

Tekanan juga terlihat pada Ethereum dan sejumlah altcoin utama. Ethereum turun sekitar 1,77% menjadi US$2.473,99, sementara Solana melemah 0,82% ke US$100,64 dan BNB turun 1,02% ke US$716,60.

Dogecoin juga bergerak melemah sekitar 0,6% ke US$0,0834. Pelemahan pada beberapa aset tersebut menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menyebar ke segmen altcoin.

Altcoin umumnya memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan Bitcoin. Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, aset dengan volatilitas lebih tinggi dapat menghadapi tekanan yang lebih besar karena pelaku pasar cenderung memprioritaskan likuiditas dan pengelolaan risiko.

Meski demikian, pergerakan pasar tidak sepenuhnya seragam. XRP justru naik sekitar 0,77% ke US$1,3960, sedangkan Cardano menguat sekitar 0,48% ke US$0,2084. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan adanya seleksi di antara aset digital meskipun sentimen pasar secara keseluruhan cenderung defensif.

Yield Treasury 10 Tahun Tembus 5%

Faktor makroekonomi menjadi salah satu sumber tekanan terbesar bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bergerak sekitar 5,03%, mencerminkan tingginya imbal hasil yang ditawarkan instrumen pemerintah AS.

Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan pendapatan tetap. Investor kini memiliki alternatif berupa obligasi pemerintah dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga sebagian aliran modal dapat berpindah dari aset berisiko menuju instrumen dengan karakteristik lebih defensif.

Bagi Bitcoin, perubahan yield Treasury menjadi semakin penting karena aset digital tersebut sangat sensitif terhadap perubahan likuiditas dan selera risiko global. Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi, kondisi finansial dapat menjadi lebih ketat dan mengurangi minat terhadap aset spekulatif.

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa Bitcoin belum mampu mempertahankan penguatan meskipun sebelumnya sempat mendekati US$80.000.

Harga Minyak Tinggi Perkuat Kekhawatiran Inflasi

Tekanan terhadap pasar kripto semakin besar karena harga energi masih berada pada level tinggi. WTI diperdagangkan sekitar US$103,6 per barel, sementara Brent mendekati US$107,8 per barel.

Lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama. Energi memiliki pengaruh luas terhadap biaya transportasi, produksi, dan harga berbagai barang serta jasa. Jika kenaikan harga minyak berlangsung lama, tekanan inflasi dapat semakin sulit untuk mereda.

Bagi The Fed, kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan moneter. Inflasi yang kembali meningkat dapat mengurangi ruang untuk pelonggaran kebijakan dan membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Ekspektasi tersebut menjadi negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Ketika investor memperkirakan kondisi moneter lebih ketat, permintaan terhadap aset yang sangat sensitif terhadap likuiditas cenderung menghadapi tekanan.

Pasar Memperkirakan Kenaikan Suku Bunga The Fed

Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Rabu mencapai sekitar 93%. Ekspektasi yang sangat tinggi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga telah menjadi salah satu skenario utama yang diperhitungkan investor.

Karena keputusan kenaikan suku bunga sebagian besar telah tercermin dalam harga, perhatian pasar kemungkinan bergeser kepada komunikasi bank sentral mengenai kebijakan berikutnya. Investor akan mencermati proyeksi ekonomi, dot plot, serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh.

Apabila Warsh memberikan sinyal bahwa suku bunga perlu dinaikkan lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi, yield Treasury berpotensi tetap tinggi dan memberikan tekanan tambahan terhadap Bitcoin. Sebaliknya, komunikasi yang lebih hati-hati dapat mengubah ekspektasi pasar dan memberikan ruang bagi aset kripto untuk melakukan pemulihan.

Clarity Act Menjadi Katalis dari Sisi Regulasi

Selain kebijakan moneter, pasar kripto juga memantau perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat. Senat AS dijadwalkan menggelar pemungutan suara prosedural terkait Clarity Act pada Selasa.

Rancangan aturan tersebut menjadi perhatian karena berpotensi membentuk salah satu kerangka regulasi penting bagi industri aset digital di AS. Versi terbaru rancangan undang-undang juga memasukkan ketentuan terkait etika untuk menjawab sejumlah kekhawatiran yang muncul dalam proses pembahasannya.

Clarity Act membutuhkan sedikitnya 60 suara untuk dapat maju ke tahap berikutnya. Oleh karena itu, hasil pemungutan suara dapat menjadi katalis penting bagi sentimen pasar kripto, terutama apabila investor melihat adanya kemajuan dalam menciptakan kepastian hukum bagi aset digital.

Namun, dampak regulasi tersebut perlu dilihat bersama faktor makroekonomi. Sentimen positif dari perkembangan Clarity Act dapat berhadapan dengan tekanan dari yield Treasury yang tinggi dan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Bitcoin Menghadapi Dua Katalis Utama

Pasar Bitcoin saat ini berada di antara dua kelompok katalis. Dari sisi makroekonomi, yield Treasury di atas 5%, harga minyak yang tinggi, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menciptakan tekanan terhadap aset berisiko.

Sementara itu, dari sisi industri kripto, perkembangan Clarity Act berpotensi memberikan arah baru bagi ekspektasi investor terhadap regulasi aset digital di AS. Perbedaan arah kedua faktor tersebut dapat membuat volatilitas Bitcoin dan altcoin meningkat setelah keputusan penting di Washington.

Investor juga akan memperhatikan reaksi dolar AS dan pasar obligasi setelah keputusan The Fed. Apabila yield kembali naik dan dolar menguat, tekanan terhadap aset kripto dapat meningkat. Sebaliknya, apabila yield turun dan kondisi keuangan menjadi lebih longgar, pasar kripto dapat memperoleh ruang untuk melakukan pemulihan.

Prospek Bitcoin dan Ethereum Setelah Keputusan The Fed

Pergerakan Bitcoin di bawah US$77.000 menunjukkan bahwa pasar saat ini masih lebih sensitif terhadap risiko makroekonomi dibandingkan katalis regulasi. Kenaikan yield Treasury hingga di atas 5% menjadi faktor penting yang membatasi minat terhadap aset berisiko, sementara harga minyak yang tinggi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Ethereum juga menghadapi tekanan serupa setelah turun ke sekitar US$2.473,99. Sementara itu, pergerakan altcoin yang beragam menunjukkan bahwa investor masih melakukan seleksi di tengah kondisi pasar yang defensif.

Keputusan The Fed dan komunikasi Kevin Warsh akan menjadi katalis utama berikutnya. Nada kebijakan yang lebih hawkish dapat mempertahankan tekanan melalui yield yang tinggi, sedangkan komunikasi yang lebih hati-hati berpotensi mengurangi tekanan makro terhadap Bitcoin dan Ethereum.

Di sisi lain, perkembangan Clarity Act akan menjadi faktor penting dari sisi regulasi. Jika proses legislasi bergerak maju, pasar dapat memperoleh tambahan sentimen positif terhadap prospek kepastian aturan aset digital di AS. Dengan demikian, arah pasar kripto dalam jangka pendek akan ditentukan oleh interaksi antara kebijakan moneter, yield Treasury, harga energi, dan perkembangan regulasi aset digital.

Sumber: Newsmaker.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Top! Begini Strategi Ekspansi BRMS di Produksi Emas

  Semarang, PT KPF - Anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) gencar melakukan ekspansi pengeboran dan pembangunan pabrik demi mencapai target pengolahan 8.500 ton bijih emas per hari. Direktur & Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan setidaknya ada 3 rencana ekspansi perusahaan yang telah dimulai pada tahun lalu. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Citra Palu Minerals. Rencana ekspansi pertama adalah pengeboran 4 prospek emas di Poboya, Palu Selawesi Tengah yang dimulai pada Kuartal II-2021. "Hasilnya segera kita umumkan, yakni pada tahap pertama di November 2021. Targetnya diharapkan kita dapat menemukan tambahan cadangan bijih emas sekitar 5 juta ton dalam bentuk cadangan maupun sumber daya," ujar Herwin dalam sebuah diskusi belum lama ini. Rencana ekspansi selanjutnya adalah adalah pembangunan pabrik pengolahan II dengan kapasitas 4.000 ton perhari. Konstruksi pabrik ini diharapk...

Bank Mayora Tidak Besar, Tapi Harta Bosnya Triliunan!

  Semarang, PT KP PRess - Pendiri emiten konsumer, PT Mayora Indah Tbk (MYOR), Jogi Hendra Atmadja, berencana melepas mayoritas kepemilikan sahamnya di PT Bank Mayora kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Rencana akuisisi ini sehaluan dengan rencana bank pelat merah tersebut masuk ke gelanggang bank digital. BBNI berencana mengakuisisi sebanyak 63,92% saham Bank Mayora melalui penerbitan saham baru sebanyak 1,02 miliar saham ditambah dengan pengambialihan sebanyak 169,07 juta saham milik IFC. Setelah transaksi tersebut, BBNI akan menggenggam kepemilikan 63,92% saham Bank Mayora dan PT Mayora Inti Utama akan menguasai 36,08% saham. "Tujuan akuisisi Bank Mayora untuk memperkuat transaksi digital," ungkap manajemen BBNI, dalam prospektusnya, dikutip Senin (24/1/2022). Lantas, seperti apa kekayaan pendiri Mayora ini? Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Mayora, Jogi Hendra Atmadja tercatat menguasai sebanyak 70% saham di Bank Mayora. Sisanya...

Kabar Baik! Saham Bank 'The Big Four' Ngegas, Diborong Asing

  Semarang, PT Kontak Perkasa -  Sebanyak empat saham emiten bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Senin (31/5/2021). Penguatan ini terjadi seiring investor asing cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) ke keempat saham tersebut. Berikut gerak empat saham bank gede, pukul 09.06 WIB. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham +1,97%, ke Rp 4.150, net buy Rp 55,44 M Bank Negara Indonesia (BBNI), +1,44%, ke Rp 5.275, net buy Rp 5,93 M Bank Mandiri (BMRI), +1,29%, ke Rp 5.875, net buy Rp 5,36 M Bank Central Asia (BBCA), +0,32%, ke Rp 31.800, net sell Rp 6,41 M. Berdasarkan data di atas, trio saham bank pelat merah, BBRI, BBNI dan BMRI menduduki posisi pertama sampai ketiga. Adapun saham bank dengan market cap terbesar di bursa, BBCA, menduduki posisi keempat. Keempat saham di atas melanjutkan kenaikan pada Jumat (28/5) ...